Seperti dilansir
the Moscow Today pada Senin (24/2), panggilan tersebut dilakukan pada Minggu malam setelah sepekan demonstrasi memuncak dan menghasilkan kesepakatan antara pemerintah dan kelompok oposisi yang dimediasi oleh Uni Eropa.
Pemerintah dan kelompok oposisi membentuk kesepakatan pada Jumat (21/2) dengan dimediasi oleh menteri Luar Negeri Prancis, Jerman, dan Polandia. Dalam kesepakatan tersebut, kedua belah pihak wajib untuk menahan diri dari penggunaan kekerasan. Persenjataan ilegal juga harus diserahkan kepada otoritas setempat. Selain itu, demonstran anti pemerintah juga diharuskan membuka blokade jalan dan sejumlah tempat yang telah diduduki sejak beberapa bulan belakangan.
Sebagai imbalan atas mundurnya demonstran tersebut, maka Ukraina akan menggelar pemilihan presiden pada Desember mendatang.
Selain itu, kesepakatan yang diraih juga membuat Presiden Viktor Yanukovych harus menanggalkan jabatannya pada Sabtu (22/2) dan digantikan oleh presiden sementara yang ditunjuk, Oleksandr Turchinov.
Sebagai presiden sementara yang baru ditunjuk Turchinov, seperti dilansir BBC menyebut bahwa Ukraina akan lebih fokus dan mendekatkan diri ke arah integrasi Uni Eropa.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry juga menyebut bahwa A S mendukung kuat hal tersebut.
Selain itu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton dijadwalkan mengunjungi Kiev hari ini untuk mendiskusikan dukungan Uni Eropa atas solusi abadi untuk krisis politik dan untuk menstabilkan situasi ekonomi Ukraina.
[ysa]
BERITA TERKAIT: