Begitu klarifikasi Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 15/2).
"Setelah dicek ulang ke Kecamatan Ngantang, Malang, dan bertemu dengan Kepala Desa, BPBD serta TNI di lapangan dilaporkan bahwa informasi tersebut tidak benar. Ada beberapa korban yang dihitung 2 kali dengan nama sebutan yang berbeda," jelas Sutopo.
Dijelaskannya lagi bahwa keempat korban tinggal di desa yang berada di radius 7 km dari puncak kawah G. Kelud. Tebal abu di lokasi korban 20 centimeter. Kecamatan Ngantang merupakan salah satu daerah yang paling parah terkena dampak erupsi. Selain abu tebal, wilayah ini juga terkena lontaran batu berdiameter 5 hingga 8 centimeter. Atap-atap rumah tertimpa pasir sehingga beberapa rumah, sekolah, toko dan lainnya roboh.
Dikonfirmasi Sutopo bahwa jumlah pengungsi hingga pukul 15.00 WIB berjumlah 56.089 jiwa dan tersebar di 89 titik, terdiri dari Kabupaten Kediri sebanyak 10.895 jiwa di 38 titik pengungsian, Kota Batu sebanyak 11.084 jiwa di 26 titik, Kabupaten Blitar 8.193 jiwa di 3 titik, Kabupaten Malang 25.150 jiwa di 17 titik, dan Kabupaten Jombang 767 jiwa di 5 titik.
Berikut data keempat korban tewas yang berhadil di data BNPB hingga Sabtu (15/2) sore:
1) Pontini atau dipanggil Mbok Nya (60, P) warga Dusun Plumbang, Desa Pandansari, Kec Ngantang, Kab Malang karena sesak nafas akibat abu vulkanik.
2) Sahiri atau dipanggil Sair (70, L) warga Dusun Ngutut, Desa Pandasari, Kec Ngantang, Kab Malang karena tertimpa tembok saat menunggu kendaraan evakuasi.
3) Sanusi (80, L) warga Dusun Plumbang, Desa Pandansari, Kec Ngantang, Kab Malang karena sesak nafas saat berlindung di bawah meja.
4) Sutinah (97, P) Dusun Ngadirejo, Desa Sumberagung, Kec. Ngantang, Kab. Malang , meninggal karena sesak nafas.
[ian]