Demikian disampaikan
keynote speech ekenom senior sekaligus Menteri Perekonomian RI era Gus Dur, Dr. Rizal Ramli dalam seminar nasional "Repsosisi Ekonomi Indonesia Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015" yang digelar Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta (UBH) di Aula Balairung Caraka, Kampus I UBH Ulak Karang, Padang, (Kamis, 16/1).
Ia menyoroti, kenaikan harga yang bertubi-tubi, membuat ekonomi mayoritas keluarga Indonesia sudah memasuki "lampu kuning". Tragedi ini terjadi pada ekonomi makro yang selama ini dibangga-banggakan.
"Perekonomian Indonesia saat ini berada di "lampu kuning" yang harus berhati-hati suatu saat bisa berubah tanda menjadi "lampu merah"," ujar RR1 sapaan akrabnya.
Ia menilai tahun 2014 ini, tahun yang sangat genting sebab bersamaan dengan pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Tentunya masyarakat harus mampu memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah dan bukan malah membawa masalah dalam kepemimpinannya.
Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini mengungkapkan, negara ini bisa maju bila kebijakan perekonomiannya tidak neoliberalisme yang sangat tidak menguntungkan bagi masyarakat keci,l dan tidak sepaham sengan pokok-pokok pemikiran ekonomi proklamator Bung Hatta, yang berujung untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat.
"Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia itu cuma numpang untuk makan saja tapi kesejahteraannya tidak tercukupi. Wajar saja 80 persen masyarakat Indonesia belum bisa dikatakan merdeka secara perekonomiannya," terang capres ideal versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI).
Maka untuk melihat pertumbuhan perekonomian itu, tambah Rizal, bukan saja dari pembangunaan tapi dari kesejahteraan masyarakat terutama dalam menyongsong Asean Economic Community 2015.
[rus]
BERITA TERKAIT: