Denny JA Sama Sekali Tidak Berpikir untuk Jadi Tokoh Sastra

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 07 Januari 2014, 14:29 WIB
Denny JA Sama Sekali Tidak Berpikir untuk Jadi Tokoh Sastra
denny ja/net
rmol news logo . Sama sekali Denny JA tidak terpikir untuk menjadi tokoh sastra. Tujuan pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menulis puisi esai yang kemudian menjadi genre baru dalam dunia sastra pun hanya untuk memperjuangkan Indonesia tanpa diskriminasi.

"Saya belum pantas masuk dalam list 33 tokoh sastra paling berpengaruh. Tapi saya menghargai PDS HB Jassin dan Team 8," kata Denny JA

Jumat sore lalu, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Tim 8 mengumumkan 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia sejak tahun 1900 hingga kini. Ke-33 tokoh sastra yang paling berpengaruh itu merupakan hasil seleksi panjang yang dilakukan oleh Tim 8 pada tahun 2013.

Masuk dalam daftar ini adalah sastrawan besar seperti Kwee Tek Hoay, Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, dan HB Jassin. Di antara 33 sastrawan itu pun muncul nama Denny JA, yang menulis karya "Atas Nama Cinta." Munculnya nama Denny JA pun sempat membuat geger dunia Sastra Indonesia.

Denny JA pun kembali menegaskan kembali bahwa sejak awal ia tak hendak menjadi penyair. Namun gagasan diskriminasi lebih merasuk disampaikan lewat puisi esai.

"Nasib manusia yang didiskriminasi itu yang menggelisahkan saya, bukan discourse dalam sastra," ungkap Denny JA dalam akun twitter-nya @DennyJA_WORLD.

"Saya menerima semua kritik, seraya mohan maaf jika ada kesalahan di pihak saya dalam berkarya dan berinisiatif," sambung Denny JA lagi.

Karya Denny JA berjudul "Atas Nama Cinta" terdiri dari lima puisi esai. Dalam karya ini, Denny JA membicarakan berbagai tema menganai diskriminasi yang kerap mewarnai perjalanan cinta anak manusia. Kelima puisi esai tersebut berjudul Sapu Tangan Fang Yin, Romi dan Yuli dari Cikeusik, Minah Tetap Dipancung, Cinta Terlarang Batman dan Robin, serta Bunga Kering Perpisahan.

Kelima naskah itu menceritakan soal kisah cinta yang terhalang dalam masyarakat Indonesia yang diskriminatif baik secara etnik, agama, gender, maupun orientasi seksual. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA