Korupsi Bikin Investor Ogah Datang ke Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Rabu, 27 November 2013, 18:04 WIB
Korupsi Bikin Investor <i>Ogah</i> Datang ke Indonesia
ilustrasi/net
rmol news logo . Bila merujuk pada pada data World Economic Forum (WEF) dalam  The Global Competitiveness Report 2013-2014, di tahun 2013 ini, indeks daya saing Indonesia meloncat dari posisi 50 menjadi peringkat 38 dari 148 negara.

Namun, meski naik 12 peringkat dari tahun sebelumnya, Indonesia belum bisa berbangga diri karena bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia masih menempati peringkat kelima. Empat negara yang berada  di atas Indonesia adalah Singapura (urutan 2), Malaysia (24), Brunei Darussalam (26) dan Thailand (37). Sedangkan  sepuluh besar teratas dalam Global Competitiveness Index 2013-2014 ditempati oleh Swiss , Singapura, Finlandia, Jerman, Amerika Serikat, Swedia, Hongkong, Belanda, Jepang dan Inggris. Padahal seharusnya, Indonesia menempati urutan yang lebih baik dari saat ini.

"Meski meningkat tajam, Indonesia masih kalah bersaing dengan negara-negara Asean. Hal itu membuktikan Indonesia belum mampu untuk menunjukkan diri sebagai macan asia seperti yang pernah didengung-dengungkan dulu," kata Presiden Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Heru Cokro, dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 27/11).

Data The Global Competitiveness Report 2013-2014 juga menyebutkan,  faktor yang paling bermasalah untuk melakukan bisnis di Indonesia adalah korupsi, birokrasi pemerintah yang tidak efisien dan lemahnya infrastruktur. Noda hitam Indonesia masih berupa penyuapan (urutan 106) dan penjaminan keamanan bagi masyarakat (urutan 104).

Karena itu, ungkap Heru, korupsi masih menjadi masalah serius yang harus segera dituntaskan. Dengan bersihnya pemerintah dari korupsi maka kepercayaan pebisnis akan meningkat dengan sendirinya. Tidak hanya itu, inefisiensi birokrasi  di pemerintah juga menjadi catatan yang serius.

"Semakin efisien birokrasi maka semakin mudah bagi investor untuk menanamkan investasi di Indonesia ujar Heru.,"

Selain itu, dalam memperbaiki sektor kesehatan dan pendidikan dasar, Indonesia pun masih dinilai lemah. Hal tersebut terlihat pada penurunan peringkat secara bertahap dalam tiga tahun terakhir, yakni dari posisi 64 pada 2011 ke posisi 70 pada 2012, dan kemudian peringkat 72 tahun ini.  Pengaturan upah dan prosedur pengangkatan tenaga kerja, ditambah rendahnya partisipasi perempuan masih juga menjadi hambatan.  Tapi di sisi lain, kualitas lembaga publik dan swasta mengalami peningkatan menjadi urutan 67.

Laporan tersebut juga menilai, setelah bertahun-tahun diabaikan Indonesia telah berupaya menambah belanja infrastruktur untuk meningkatkan pembangunan jalan, pelabuhan, fasilitas air, dan pembangkit listrik.  Karena itu, terjadi peningkatan tertinggi pada pilar infrastruktur, yakni naik 17 tingkat dari posisi 78 pada tahun lalu menjadi 61. Namun demikian, persoalan infrastruktur tetap dinilai masih menempati  posisi tiga besar dalam the most problematic factors for doing business in Indonesia. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA