Kegagalan mempersiapkan diri bisa menjadi blunder di masa yang akan datang. Sehingga bukan tidak mungkin akan muncul gerakan menolak MEA.
"Lima tahun lagi, sekitar 70 persen populasi Indonesia adalah anak muda, yang menurut UU berusia antara 16 hingga 35 tahun. Tantangan kita di masa itu akan jauh lebih besar," ujar Deputi Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga, Alfitra Salamm, ketika berbicara pada simposium internasional yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) ASEAN di Universitas Thammasat, Bangkok, Rabu siang (27/11).
Dalam
setting MEA, dimana barang, jasa, modal dan tenaga terlatih dapat bergerak bebas melintasi batas negara-negara anggota ASEAN, perebutan lahan pekerjaan akan semakin kompetitif.
"Supir-supir taksi bisa jadi orang Filipina yang dapat berbahasa Iggris relatif lebih baik dari kita. Atau dosen-dosen juga mungkin berasal dari negara-negara lain di ASEAN," ujar Alfitra lagi.
"Saya tidak ingin terjadi resistensi terhadap MEA. Tetapi prediksi saya akan terjadi tuntutan dari kalangan anak muda terutama yang tidak mendapatkan pekerjaan. Mungkin akan ada teriakan "
go to hell ASEAN community"," kata mantan Ketua Harian PP Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) lagi.
Untuk itulah, Alfitra berharap agar gagasan tentang MEA ini benar-benar digalakkan sejak sekarang. Serta anak-anak muda mulai mengambil peranan yang lebih besar.
[dem]
BERITA TERKAIT: