Tadi siang warga datang bersama mahasiswa dari The Jakarta Institute, Perhimpunan Mahasiswa Jakarta, GMII, mahasiswa Universitas Mercubuan, HMI, Universitas Nasional, STIE Swadaya, dan Universitas Islam Assafiyah.
"Teman-teman mahasiswa hadir mengadvokasi masyarakat setelah mendapatkan laporan dari warga meruya selatan yang terzhalimi dan direbut haknya oleh salah satu perusahaan namun pemerintah tidak hadir membela mereka," kata salah satu mahasiswa HMI La Ode Ida, Selasa (02/10).
Salah satu warga meruya selatan Muhammad Ali mengungkapkan bahwa selama ini mereka tidak mendapat pembelaan dari pemerintah. Padahal warga selalu diintimidasi oleh pihak-pihak yang menginginkan tanah mereka, dan yang lebih parah lagi Lurah Meruya Selatan merekomendasikan ke BPN agar di keluarkan sertifikat tanah.
"Tapi bukan atas nama kami. Kami sangat kecewa dan yang lebih parah lagi kami datangi ke kelurahan untuk meminta kejelasan bersama mahasiswa tapi malah kabur lurahnya," tegas Ali.
Mahasiswa Universitas Mercubuana Zulfian Rehalat yang juga Direktur Eksekutif TJI mempertanyakan hasil lelang jabatan yang dilakukan oleh Jokowi untuk membangun tata kelola yang berbasis ke masyarakat. "Lurah hasil lelang di datangi masyarakat dan mahasiswa aja kabur, bagaimana mau membela rakyatnya. Apa jangan-jangan mental pejabat pemda DKI seperti itu hasil lelang Jokowi-Ahok," ujar Zulfian.
[dem]