"Zaman Pak Gatot Gubernur, beliau sangat aktif mempromosikan tenun ikat atau songket ke luar negeri. Beliau selalu melibatkan ahli dalam bidan tenun dalam setiap promosi pariwisata," kata satu-satunya pengusaha tenun yang masih tersisa, Darnay Montana Ang, saat ditemui tokoh nasional asal Lombok, Lalu Mara Satria Wangsa, beberapa waktu lalu.
Dulu, lanjut Darnay, di era Gubernur Gatot Suherman, ada SK Gubernur yang mewajibkan PNS untuk menggunakan baju berbahan tenun ikat atau songket di hari-hari tertentu. Dengan SK itu, maka produksi tenun di Lombok tumbuh dan berkembang.
"Kini, banyak perusahaan tenun tutup. Kalau kami tutup, tutup cerita tenun," katanya, sambil menjelaskan bahwa ia meneruskan perusahaan tenun yang diwariskan orangtuanya. Dulu, ia sampai mempunyai pekerja hingga 400 orang. Namun kini, pekerja yang tersisa tingga 40 orang.
Kepada Lalu Mara, Darnay juga mengatakan bahwa pengembangan tenun Lombok juga terkendala sumber daya manusia, karena memang pengusaha tak memiliki anggaran untuk pelatihan. Ia pun menegaskan bahwa pengusaha tenun butuh perhatian pemerintah untuk pelatihan, promosi dan pemasaran. Minimal, PNS mengunakan lagi tenun, dan bukan batik. Sebab batik bukan berasal dari Lombok.
"Sepertinya, tenun Lombok menunggu klaim Malaysia, baru ramai. Saya sudah diajak oleh pengusaha Malaysia untuk memindahkan usaha tenun ini ke Malaysia, dan dijadikan tenun Malaysia. Semua ditanggung oleh mereka. Saya tolak karena ini warisan orang tua kami," ungkap Darnay.
Dalam kesempatan ini, Lalu Mara, yang merupakan Wasekjen Golkar dan orang kepercayaan Aburizal Bakrie, merasa kagum dengan idealisme Darnay Montana Ang dalam mempertahankan tenun ikat Lombok ini. Darnay tidak goyah karena iming-iming materi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: