Penghuni GCM yang merasa terancam itu didatangi untuk mendukung langkah FK-WGCM menolak kenaikan biaya
service charge dan menggulingkan pengurus Perhimpunan Pemilik Rumah Susun (PPRS) yang sah.
Menurut Tony, salah seorang pemilik unit apartemen Tower C1 GMC, misalnya, anggota FK-WGCM mengetok pintu apartemen pada malam hari untuk mengumpulkan tandatangan surat kuasa dukungan.
"Mereka juga menyebar kuesioner dengan isi pertanyaan mengarahkan pemilik atau penyewa untuk menuntut pembubaran PPRS yang sah. Isu yang digunakan penolakan kenaikan biaya
service charge dan indikasi penggelapan uang dari pemilik oleh pengelola selama berpuluh tahun lamanya," ujar Tony dalam keterangan yang diterima redaksi.
Dia menambahkan, sejumlah penghuni lain juga diintimidasi oleh sekelompok orang suruhan FK-WGCM yang mengaku pemilik dan penyewa. Bahkan ada penghuni yang diintimidasi di saat dalam suasana berduka akibat sang kepala keluarga baru meninggal dunia.
"Saya sudah jelaskan ke teman-teman semua tentang kondisi sebenarnya. Mereka mengerti. Sampai sekarang kami bayar ke pengurus sah. Teman-teman saya orang waras semua, tidak takut intimidasi," jelas mantan Ketua RT di Blok C1 ini.
Seorang penghuni di Towe A2 juga mengaku apartemennya sering diketuk anggota FK-WGCM di malam hari dan dicaci maki sebagai pengkhianat perjuangan aspirasi warga karena tidak mendukung pembubaran PPRS.
Seorang penghuni di Tower A1 mengatakan orang tuanya nyaris menjadi korban tipu daya kelompok K-WGCM. Untungnya, sang ayah berkilah dirinya sebatas penyewa sehingga tidak bisa memberikan surat kuasa seperti yang diminta oleh FK-WGCM.
Laporan lain juga menyebutkan bahwa Ketua RW setempat menjelaskan bahwa sang pensiunan jenderal yang membidani organisasi sempalan ini tidak pernah terdaftar sebagai penghuni di unit apartemen.
"Di Kartu Keluarga asli juga tidak ada namanya sebagai kepala keluarga," ujar Ketua RT bernama Hery ini.
[dem]