Pagi itu sebenarnya cerah, matahari yang hangat menyinari lautan biru. Perjalanan dengan boat cepat, hanya memerlukan waktu 30 menit saja. Dive plan hari ini Selasa 20 Agustus 2013 kami, menyelam mencari pari manta di Manta Bay. Adrenalin memang langsung naik, ketika Yance menceritakan di Nusa Penida merupakan ibukota manta di Indonesia. Sebab, hampir disemua dive site sepanjang garis pantai barat merupakan habitat manta. "Gak usah jauh-jauh ke Raja Ampat kalau mau ketemu manta, disini gampang sekali ketemu manta," kata Yance yang gampang tertawa ini.
Bulan Juli-Agustus, dengan arus up stream dingin dari Laut Hindia sedang naik, membawa nutrisi kaya dari dasar laut. Plankton semakin banyak dan ini adalah sumber makanan pari manta. Di permukaan, laut bergelora membuat kapal yang membawa kami naik turun.
Manta bay, sudah di depan mata. Sepanjang ceruk dengan dinding tinggi ini, ternyata sudah dipenuhi oleh kapal-kapal yang membawa wisatawan dan penyelam. Memang benar, ini musim manta yang luar biasa. Hanya perlu snorkeling saja, atau dari atas boat sudah bisa melihat manta berseliweran seperti manusia berjalan-jalan dalam mall.
Perlu kehati-hatian dari motoris untuk menurunkan diver, karena arus balik dari air yang menghantam dinding terjal sangat kuat. Kapal terombang-ambing, kami harus cepat entry jika tidak mau mabok laut. Setelah yance entry dgn backroll, giliran saya kemudian Ari, istri saya.
Hampir tak percaya, penyelaman ini gak terlalu dalam. Divecom hanya menunjukkan angka 9 meter saja, dengan arus yang kuat. Ari tetap berpegangan tangan, krn khawatir dengan arus yang kuat. Tanpa perlu kicking, badan hanya maju 5 meter kemudian mundur lagi 3 meter. Tadinya saya melawan arus untuk mempertahankan laju, namun guide saya Yance memberi signal untuk berhenti dan mengikuti aluran arus maju dan mundur.
Setelah memeriksa alat dan kondisi penyelaman, saya baru bisa tenang dan mengikuti arus. Ari sudah mulai melepas tangannya. Kamera pun, sudah dalam posisi on. Memang tak lama kemudian, dari birunya air laut, saya perlahan-lahan melihat bayangan kegelapan maju menghampiri. Itu pari manta pertama yang saya lihat dari dekat. Bergerak anggun, perlahan membuka mulutnya lebar-lebar menghisap sup plankton yang tersebat. Ari saya liat antusias mengejar manta itu, berusaha mendekat lagi.
Aneh juga, Ari yang biasanya penakut jadi berani mendekati manta-manta itu. Malah saya berkali-kali memanggilnya untuk tak mengejar manta yang berenang perlahan.
Satu..dua..tiga….manta besar-besar, perkiraan saya ukuran manta ini jarak dari ujung sayap kanan ke sayap kirinya mencapai 3 meter. Mereka berkeliling dan kembali lagi ke kegelapan. Siang ini mungkin agak chaos, karena disekeliling saya ada sekitar 20 penyelam yang berdekatan. Saya sakin gelembung-gelembung udara diver menakuti mereka.
Yance memberikan singnal untuk up, setelah 40 menit penyelaman. Kami berpindah ke Manta Point. Lokasi ini sekitar 10 menit ke arah selatan, melewati batu bolong dan tebing-tebing tinggi menjulang.
Hiu
Tak seramai Manta Bay, lokasi ini relative tenang. Setelah surface interval yang cukup, saya entry duluan. Sebetulnya, pengen menghilangkan mual-mual akibat kapal oleng. Benar saja, begitu turun langsung muntah-muntah, heheheh…tp ini obat paling manjur. Karena setelah itu, kepala jadi ringan dan badan lebih hangat.
Teluk ini kurang lebih seluas lapangan bola, kami hanya akan menyusuri dinding. Yance bilang, dinding harus ada di sebelah kanan diver, setelah ketemu batu besar kami akan return kembali ke titik awal. Dive plan kurang lebih 15 meter, 50 menit. Ini penyelaman rekreasi yang nyaman, dan tujuan mendekati hewan-hewan raksasa itu harus berhasil.
“Di teluk ini, selain manta kita juga kalau beruntung bisa melihat hiu paus. Mola-mola yang sering mengikuti arus naik dingin, kadang juga kelihatan,†kata Yance. Wah ini kesempatan yang bagus, kalau bisa ketemu Mola-Mola.
Arus masih lumayan kencang dan tricky. Wetsuit 5 mm yang saya pakai, masih tembus ketika arus laut naik membawa air dingin 25â—¦ C. Namun saya bertekad mendekati manta lagi, karena tadi hanya ari yang bisa berpose dengan manta. Mendekati 15 meter, saya melihat bayang-bayang hitam lebih besar dari arah samping kiri. Manta lagi, kali ini sepertinya lebih besar. Kamera on dan mulai merekam video, bergantian dengan mode portrait.
Kamera saya kasih ke Yance dan saya yang mengejar Manta, Ari dibelakang mengikuti. Di tengah pengejaran, kami melihat beberapa hiu melintas di bawah. Ari saya kasih tau ada hiu, dan ia mulai mendekat tak mau diving jauh-jauh dari saya. Tak begitu jelas hiu jenis apa, tapi mitos dan khayalan ari soal hiu sepertinya mengganggunya. Saya mengeluarkan sabak dan menulis untuk menenangkan dia.
Memang tak banyak pemandangan yang dapat diliat di Nusa Penida. Ini bukan taman laut penuh koral dan ikan warna-warni memanjakan mata. Namun bagi saya, itulah dunia menyelama yang saya gandrungi. Selalu memiliki kejutan, atraksi dan suasananya berbeda.
Hendrata Yudha, aktivis selam Top Ranger and Mountain Pathfinder atau Tanah Raga Air Madya Pancasila (TRAMP)
BERITA TERKAIT: