Namun sayang, kata ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak, optimisme pemerintah yang berlebihan ini tidak rasional. Sebab satu-satunya argumentasi yang digunakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan tersebut adalah kebijakan insentif fiskal yang akan diberikan kepada industri yang fokus pada peningkatan SDM dan ruang fiskal yang meningkat untuk belanja infrastruktur pada tahun 2014 nanti.
Padahal, kata Danil kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 17/8), apabila merujuk fakta bahwa 2014 ini adalah tahun politik maka sulit mencapai pertumbuhan, bahkan diatas 5,5 persen. Ini sama halnya dengan pertumbuhan tahun 2013 yang lalu, yang akhirnya terpaksa juga dikoreksi oleh pemerintah sendiri.
Setidaknya, lanjut Danil, ada dua hal yang menyebabkan sulitnya pencapaian pertumbuhan ekonomi 2014 pada angka 6,4 persen sampai dengan 6,9 ini. Pertama, adalah tahun politik yang menyebabkan peluang alokasi anggaran digunakan untuk kepentingan politik bukan cuma oleh partai penguasa tetapi juga oleh partai lain yang memiliki anggota DPR RI.
"Semuanya memiliki kecenderungan menjadikan APBN menjadi bacakan, sehingga stimulus APBN bagi pertumbuhan ekonomi seringkali tidak efektif," tegas Danil
Kedua, masih kata Danil, investor memiliki kecenderungan untuk
wait and see pada tahun 2014, karena tidak mau berhadapan dengan potensi ketidakpastian yang tinggi pada tahun politik ini. Selain juga karena aktor perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina dan India. [ysa]
BERITA TERKAIT: