Dari data Indonesia Police Watch (IPW), di sepanjang jalur mudik dari Kalimalang hingga ke perbatasan Jabar-Jateng setidaknya ada 40 titik daerah rawan kecelakaan. Kawasan rawan itu akibat jalanan rusak atau jalanan tambal sulam. Sejak mulai dari depan Mesjid Al Azhar Kalimalang, pemudik pengguna sepeda motor sudah terancam kecelakaan. Perbaikan jalan yang belum selesai dan ditinggal begitu saja terhampar sepanjang 1 km.
"Kondisi ini makin parah karena banyaknya jalanan tambal sulam," ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane, Minggu (4/8).
Neta berharap musim mudik tahun jangan sampai menjadi "ladang pembantaian" di jalanan, terutama bagi pemudik bersepeda motor. Seharusnya, pemerintah kata dia mempunyai strategi khusus untuk mengurangi kepadatan Pantura, misalnya dengan mengangkut pemudik melalui jalur laut dengan mengerahkan seluruh kapal perang TNI AL dari Tanjungpriok dan jalur udara mengerahkan seluruh pesawat herkules TNI AU dari Halim Perdanakusuma.
"Sayangnya, hal itu tidak dilakukan pemerintah dengan maksimal," terangnya.
Padahal kata dia seperti keterangan tertulisnya, melihat situasi yang ada seharusnya pemerintah menerapkan "darurat mudik" sehingga segenap kekuatan militer dan sipil dikerahkan untuk mengurangi kepadatan Pantura. Meskipun sudah melakukan pagar betis, Neta menilai, Polri tidak cukup kuat untuk mengawal kepadatan Pantura. Sebab kepadatan Pantura dari tahun ke tahun makin tidak terkendali.
"Peningkatan pemudik sepeda motor rata-rata sebesar 12 persen setiap tahun. Untuk itu perlu ada upaya maksimal dari pemerintah mengurangi kepadatan Pantura, sehingga kecelakaan dan korban jiwa di Pantura bisa diminimalisir," tandas Neta.
[rus]
BERITA TERKAIT: