Hal itu dikatakan Din dalam konferensi pers ormas dan lembaga Islam di Jakarta, Senin (29/7), terkait perkembangan politik Mesir.
"Pembantaian di Mesir dilakukan oleh militer dan karena itu tindakan tersebut sebagai bentuk terorisme oleh militer. Ini harus dihentikan," kata Din.
Pihaknya meminta lembaga-lembaga dunia seperti OKI, Liga Arab dan PBB mengambil langkah konkret untuk menghentikan kekerasan militer terhadap rakyat sipil, dan mencari jalan keluar krisis Mesir.
"Saya minta semua pihak, terutama badan-badan internasional, berbuat nyata mencegah pembantaian lebih besar lagi," ujarnya.
Din juga mengecam intervensi asing, terutama negara-negara adidaya, dalam krisis di Mesir. Intervensi asing, kata dia, hanya akan memperburuk kondisi negeri itu.
Diberitakan, tentara dan polisi Mesir menyerang demonstran di bundaran depan Masjid Rabiah Adawiyah di Kota Kairo, pada Sabtu dini hari waktu setempat. Tempat unjuk rasa warga pendukung presiden terguling Mohamed Moursi pun banjir darah, 120 orang tewas dan lebih seribu orang terluka.
Sementara informasi yang rilis pihak Departemen Kesehatan Mesir, menyebutkan jumlah korban tewas dalam bentrokan antara kelompok pendukung dan penentang mantan Presiden Mohamed Morsi, di Kairo meningkat menjadi 72 orang.
Sementara itu, sekitar 792 orang terluka dalam kedua insiden yang berlangsung di hari Jumat dan Sabtu pagi.
[zul]
BERITA TERKAIT: