Pemerhati masalah politik dan persoalan strategis, Toni Ervianto mengakui, memang ada ajaran agama yang menyebutkan, “selemah-lemah iman adalah diam atau berdoa dan sekuat-kuat iman bertindak dengan memakai tangan.â€
Namun melawan kemungkaran dapat dilakukan dengan bekerjasama memberantas kemungkaran, atau arti tangan di kalangan
policy maker atau pembuat kebijakan adalah memerangi kemungkaran melalui pembuatan kebijakan yang pro rakyat, pro nilai agama dan pro kepentingan nasional.
Toni Ervianto mengungkapkan itu terkait aksi sweeping yang dilakukan FPI yang berujung bentrok di Kendal. Masyarakat Indonesia pun sudah muak dengan berbagai aksi FPI. Hal terbukti dari respons masyarakat atas aksi FPI tersebut.
“Yang pasti, masyarakat muak dengan aksi premanisme dan teror. Itu bukan budaya yang anggun, namun merefleksikan kedangkalan aqidah, kesempitan pemahaman, dampak kurang bergaul dan merasa menang sendiri,†jelas Tony dalam pernyataannya malam ini (Selasa, 23/7).
Apalagi semakin disesalkan, tindakan FPI melakukan sweeping berakhir anarkis dan merenggut nyawa terjadi di bulan Ramadhan.
“Sekali lagi, suasana harus didinginkan agar pesta Ramadhan tidak diwarnai dengan aksi-aksi premanisme apalagi konflik komunal bahkan konflik SARA. Jadikanlah momentum Ramadan ini untuk memperkuat solidaritas kebangsaan kita dan melemahkan segregrasi sosial yang selama ini masih menganga,†ujar Magister Intelijen UI ini.
Sementara itu, pengamat masalah ormas, A Fajar Kurniawan menambahkan, masyarakat sudah tidak simpatik terhadap aksi anarkis yang mengatasnamakan agama sekalipun mungkin itu tujuannya positif.
Pendapat senada disampaikan Bagus Nuril. Ia menilai kasus Kendal harus dituntaskan secara UU hukum pidana dan tidak dapat memakai UU Ormas. “Kalau anggota FPI yang salah harus dihukum. Kalau organisasinya kan tidak salah, yang salah orangnya,†demikian pemerhati masalah Ormas ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: