Bea Keluar Kakao Dorong Perkembangan Industri Hilir Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Minggu, 16 Juni 2013, 10:25 WIB
Bea Keluar Kakao Dorong Perkembangan Industri Hilir Indonesia
rmol news logo Bea Keluar (BK) atas ekspor biji kakao yang diberlakukan mulai 1 April 2010 telah mendorong berkembangnya industri hilir Indonesia. Industri kakao Indonesia juga mengalami peningkatan kapasitas produksi yang cukup signifikan.

"Kebijakan BK dinilai cukup berhasil karena terbukti telah mengembangkan industri hilir. Ini dapat dilihat dengan berdirinya 6 pabrik pengolahan kakao yang baru dengan kapasitas total 430 ribu ton per tahun dan bertambahnya kapasitas 8 pabrik pengolahan yang telah ada sebesar 87%, dari  125.000 ton pada tahun 2009 menjadi 280.000 ton pada tahun 2011," ujar Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan saat melakukan kunjungan kerja ke Batam untuk meninjau PT Asia Kakao Indonesia, (Sabtu, 15/6).

Dalam keterangan persnya, Mendag menjelaskan, bahwa telah terjadi peningkatan kapasitas industri sekitar 87%. “Hal ini dikarenakan adanya beberapa industri, yang sebelumnya berhenti berproduksi, kembali beroperasi,” tambahnya.

Yang tidak kalah penting, ujar Mendag, penerapan BK juga membuka peluang yang lebih besar kepada para petani kakao karena dapat menjual produk biji kakao, tidak hanya kepada para pedagang/eksportir, tetapi juga kepada industri pengolahan kakao dalam negeri.

“Masuknya para investor asing tidak perlu dikhawatirkan. Hal ini tidak akan mempengaruhi industri kakao yang sudah ada karena pangsa pasar yang berbeda,” ungkapnya.

Beberapa investor asing seperti Cargill, ADM dan JB Cocoa memproduksi kakao olahan kelas premium untuk pasar di Eropa. Sedangkan industri yang sudah ada di Indonesia umumnya memproduksi kakao olahan kelas menengah untuk pasar di negara-negara berkembang. Salah satu contoh perkembangan industri hilir ini ditandai dengan rencana ekspansi PT Nestle Indonesia atas pabrik susu Milo dan Dancow di Pasuruan dan Karawang.

PT. Asia Cocoa Indonesia merupakan investor dari Malaysia yang sudah mengoperasikan pabriknya di Batam yang mengolah biji kakao menjadi cocoa butter dengan kapasitas terpasang 65.000 ton.

Produksi Biji Kakao tahun 2010 meningkat sebanyak 29.335 ton dibanding tahun 2009. Sementara pada tahun 2011 terjadi penurunan sebesar 125.687 ton dibanding tahun 2010 yang mencapai 837.918 ton. Pada tahun 2012, angka sementara produksi mencapai 936.266 ton atau bertambah sebesar 224.035 ton. Sedangkan tahun 2013, diperkirakan produksinya akan meningkat sedikitnya 2.577 ton.

Di Batam, Mendag juga meninjau PT Citra Tubindo Tbk. PT Citra Tubindo merupakan perusahaan yang memproduksi pipa pengeboran minyak dan gas bumi jenis level quality untuk digunakan di kedalaman lebih dari 4000 meter. Adapaun negara tujuan ekspor utama pabrik ini yaitu negara Timur Tengah, Arab Saudi, dan Iran. Sementara ekspor ke AS sekitar 20% dari total ekspor.

Dari kapasitas produksi terpasang perusahaan yang ada, kapasitas real-nya relatif rendah karena tersaingi oleh barang impor sejenis, terutama dari China, Jepang dan Singapura. Sebagai gambaran, pada tahun 2012, impor produk casing dan tubing nasional yang dihasilkan perusahaan ini meningkat  signifikan yaitu naik 232% (yoy) dengan volume impor yang mencapai 119 ribu ton yang bernilai USD 240 juta atau sekitar Rp.2,4 triliun. Untuk itu, Pemerintah akan segera mengenakan tindakan pengamanan (safeguard) guna melindungi industri dalam negeri dan investasi di industri tersebut.

Di sela-sela kunjungan, Mendag juga berkesempatan memantau harga kebutuhan bahan pokok di pasar Botania menjelang bulan Puasa dan Hari Raya Lebaran. “Hasil pemantauan menunjukkan harga bahan pokok masih normal dan ketersediaan bahan pokok juga masih mencukupi,” pungkas Mendag. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA