"Defisit perdagangan kita melejit ke 1,62 miliar dolar AS pada April 2013. Repotnya, jika sebelumnya defisit perdagangan migas menjadi pemicu utama, sekarang malah non-migas. Artinya, harga bahan bakar minyak (BBM) dinaikkan pun belum tentu defisit perdagangan bisa dikendalikan," kata ekonom Dradjad H Wibowo kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 11/6).
Menurut Dradjad, ada masalah serius dalam sektor produksi dan standardisasi barang di Indonesia. Sehingga, seharusnya, nilai tukar rupiah itu sudah melemah sejak Januari lalu. Namun hal itu tidak terjadi karena masih ditahan-tahan oleh Bank Indonesia sehingga cadangan cadangan devisa BI anjlok ke level 105 miliar. Akibatnya, cadangan devisa Indonesia anjlok sekitar 6-7 miliar dolar AS.
Di sisi lain, lanjut Dradjad, permintaan terhadap dolar AS tahun ini untuk membayar utang luar negeri swasta besar sekali, dan mencapai 39,6 miliar dolar AS.
"Jadi memang dari sisi fundamental, rupiah harus merosot," ungkap Dradjad, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).
Sayangnya, masih kata Dradjad, pemerintah tidak bisa menahan rupiah agar tidak melewati kurs psikologis Rp 10.000 per dolar AS.
"Ya mudah-mudahan tidak ada efek psikologis negatif di pasar yang membuat rupiah rentan terhada serangan spekulatif sehingga semakin merosot," demikian Dradjad.
[ysa]
BERITA TERKAIT: