Mengapa Mari Elka Pangestu Gagal Jadi Dirjen WTO...

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 26 April 2013, 14:26 WIB
<i>Mengapa Mari Elka Pangestu Gagal Jadi Dirjen WTO...</i>
mari elka/ist
rmol news logo . Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, gagal mengikuti seleksi tahap dua besar dalam pemilihan Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia atau  World Trade Organization (WTO) di Jenewa.

Sebelumnya, pada 10 April lalu, Mari berhasil masuk dalam seleksi lima besar bersama dengan Tim Groser dari Selandia Baru, Taeho Bark dari Korea Selatan, Hermino Blanco dari Meksiko dan Roberto Carvalho de Azevedo dari Brazil.

Dalam seleksi dua besar, Mari gagal bersama dengan dengan Tim Groser dan Taeho Bark. Sementara Hermino Blanco dan Roberto Carvalho de Azevedo berhasil masuk ke seleksi dua besar ini, karena selain mendapat dukungan dari negara-negara Amerika Latin, juga diduga mendapat suara dari negara-negara Eropa.

Kabar kegagalan Mari ini cukup mengejutkan sementara kalangan di tanah air. Bagaimana tidak, Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan begitu percaya diri bahwa Mari akan mendapat dukungan dari negara-negara Eropa. Pun demikian dengan Mari yang optimis akan menjadi Dirjen WTO

Hatta dan Gita pun bahkan ikut mempromosikan Mari dalam beberapa kesempatan, untuk bisa menggantikan posisi Pascal Lamy, yang masa tugasnya akan berakhir pada 31 Agustus 2013 mendatang. Pemilihan dan penetapan Dirjen baru WTO sendiri akan dilakukan pada sidang Dewan Umum WTO pada akhir 31 Mei 2013.

Di dalam negeri, kegagalan Mari ini menuai spekulasi. Misalnya saja, soal paradigma ekonomi yang menjadi ideologi Mari Elka Pangestu. Mari dikenal selalu mewakili liberalisasi perdagangan, dan mengikuti garis kebijakan Washington.

Karena itulah, disebutkan, mayoritas negara berkembang tidak suka dengan Mari Elka karena jarang berpihak kepada kepentingan negara-negara berkembang. Bahkan pejabat-pejabat WTO sendiri di Jenewa sering mengkritik posisi Mari Elka yang terlalu pro negara maju. Di saat yang sama, negara-negara Eropa, yang juga ingin melindungi sektor pertaniannya, juga beranggapan bahwa garis kebijakan yang akan diambil Mari Elka tidak akan fair bila menduduki Dirjen WTO.

Sebaliknya, saingan Mari Elka yang berhasil lolos ke dalam dua besar, Hermino Blanco dan Roberto Carvalho, dikenal lebih memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang.

Sementara di dalam negeri, kebijakan mantan Menteri Perdagangan ini tidak kalah menuai kontroversinya. Mari Elka adalah sosok yang disebut-sebut berada di balik setiap perjanjian perdagangan bebas, baik dengan ASEAN maupun dengan China (AFTA dan CAFTA). Bahkan Mari pun menjadi pendukung perjanjian perdagangan bebas dengan Australia sehingga mendapat bintang jasa dari pemerintah Ausralia. Di saat yang sama, Mari tutup mata terhadap kartel impor pangan yang sangat menguntungkan taipan-taipan impor.

Jadilah Mari Elka, dinilai sebagai seorang pelaksana kebijakan ekonomi, yang tidak bekerja untuk kepentingan nasional, namun juga di saat yang sama tidak disukai negara-negara berkembang.

Di luar kebijakan ekonomi neoliberalnya, orang dekat Mari juga disebut-sebut dalam sejumlah kasus. Sebut saja misalnya, suaminya, sempat disebutkan terlibat dan menjadi broker pembelian pesawat China yang pernah jatuh sehingga merugikan Merpati Airlines.

Begitulah spekulasi yang berkembang di balik kegagalan menteri SBY ini. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA