Ulil menyebut, kalau SBY membajak demokrasi, suara-suara kritis seperti yang disampaikan Ray Rangkuti pasti sudah diberangus. Hikam tak menyangka Ulil yang juga tokoh Jaringan Islam Liberal itu mengungkapkan pernyataan yang sangat emosional.
"Sungguh tak menyangka jika Ulil Abshar Abdalla (UA) ternyata bisa mengeluarkan statemen seperti ini. Dia menanggapi Ray Rangkuti (RR) yang mengritik Pak SBY 'membajak demokrasi' bukan dengan argumen selayaknya seorang intelektual, tetapi lebih mirip seorang ideolog dan politisi kelas empat!" ungkap Hikam (Rabu, 3/4).
Ulil, hemat Hikam, mestinya memberikan argumen yang logis, bukan hanya berapologi dan mendistorsi masalah. Dengan cara pembelaan Ulil itu, marwah dan kredibilitas SBY justru bukannya diangkat atau, minimum, diperkuat oleh UA.
"Sebab, kendati seakan-akan melakukan penyangkalan atau bantahan terhadap kritik RR, tetapi sejatinya UA cuma membelokkan masalah bukan menjawab substansi kritik secara tuntas," kesal jebolan
University of Hawaii at Manoa, Honolulu, AS ini.
Akibatnya, statemen Ulil lebih merupakan apologia seorang ideolog dan politisi rendahan ketimbang jawaban seorang politisi cum cendekiawan. Ironisnya, UA dikenal sebagai pembela nilai-nilai serta praktik demokrasi, termasuk anti-elitisme dalam kehidupan bermasyarakat.
"Tapi dari cara menjawab kritik RR, kesan saya, UA malah memberi legitimasi terhadap praksis politik yang bisa melemahkan sendi-sendir demokrasi.
How low can you go, brother?" demikian Menristek era Pemerintahan Gus Dur ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: