Kelas Capres, Jenderal Pramono Edhie Malah Didorong Urus Partai yang Dibenci Masyarakat

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Rabu, 13 Maret 2013, 08:09 WIB
Kelas Capres, Jenderal Pramono Edhie Malah Didorong Urus Partai yang Dibenci Masyarakat
rmol news logo Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan dinilai salah saat menyatakan Jenderal Pramono Edhie Wibowo saat ini dalam posisi puncak karir sebagai prajurit TNI. Ipar SBY tersebut sekarang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

"Dia salah. Justru tentara itu, kalau panglima artinya punya komando. Kalau KSAD, itu administrasi alias kepala staf," ujar pengamat politik Syahganda Nainggolan kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Rabu, 13/3).

Sebelumnya Ramadhan mengungkapkan itu menanggapi pernyataan Syahganda. Syahganda menuding Ramadhan menghambat karir Jenderal Pramono menduduki kursi puncak di TNI, yaitu Panglima TNI. Karena Ramadhan ngotot mendorong Jenderal Pramono untuk jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Pasalnya, kalau aktif di partai, harus mundur dari militer.

"Kasihan Pramono Edhie ditarik-tarik ngurusi partai yang sudah dibenci masyarakat. Dan image-nya, tentara tidak di atas semua golongan," sambung Syahganda.

Menurut Syahganda, Jenderal Pramono sebaiknya turun di politik setelah menunjukkan kualitas kepemimpinannya saat menjadi Panglima TNI. Setelah jadi Panglima TNI, barulah Pramono terjun ke politik, itu pun untuk maju di Pemilihan Presiden 2014.

"Jadi intinya Pramono Edhie Wibowo potensi jadi capres bukan jadi calon ketum Demokrat. Prabowo (Subianto) hanya bisa disaingi Pramono edhie," tegas Syahganda.

Apalagi, sambung Syahganda, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY, sudah menegaskan, bahwa pengganti Anas Urbaningrum yang akan dipilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) akhir bulan ini tidak boleh maju sebagai capres atau cawapres. "Kalau Pramono Edhie jadi ketua umum, nggak bisa dong dia jadi capres," tandas Syahganda.

Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf mengungkapkan, SBY telah melarang ketum Demokrat mencalonkan diri menjadi presiden ataupun wakil presiden. Karena ketum terpilih nanti harus berfokus pada pembenahan di lingkup internal Demokrat. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA