Namun mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu juga disarankan tetap harus berfikir dan bertindak secara nalar serta hati-hati agar aksi perlawanan tersebut bukan malah memukul balik ke arahnya atau dimanfaatkan pihak-pihak yang memiliki agenda dan kepentingan politik yang berbeda sama sekali.
"Gejala terakhir itu sudah tampak dengan 'dukungan' dan 'simpati' para politisi terhadapnya, bahkan gerakan anti-SBY yang mengggunakan namanya," jelas pengamat politik senior AS Hikam (Rabu, 27/2) menanggapi munculnya spanduk Aliansi Nasional Anti SBY (ANAS).
Karena itu, menurut Hikam, Anas Urbaningrum lebih baik fokus kepada kepentingan utamanya, yakni memertahankan survival politik dan hukum. Jika ia tergoda menjadi "panglima" gerakan anti Pemerintah dan SBY itu, misalnya, dikuatirkan malah akan kontraproduktif.
"Bukan saja perlawanan menjadi tidak jelas, tetapi juga menyurutkan simpati pihak yang
genuine mendukungnya," demikian mantan politikus PKB yang pernah menjadi Menristek ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: