Rencana kerjasama riset tersebut akan menggunakan kapal RV Sonne yang canggih, dan tentunya ini akan diragukan. Pasalnya, mereka bisa mengambil data-data potensi di dasar laut. "Saya yakin, kapal riset milik BPPT dan Sekolah Tinggi Perikanan sangat layak untuk melakukan riset itu," kata Direktur Litbang IMI, Dondy Arafat, beberapa saat lalu (Selasa, 5/2)
Dondy menilai Penelitian geologi yang diajukan oleh pihak Universitas tersebut, kalaupun berkaitan dengan prediksi iklim sangat mungkin akan dilakukan pengambilan sampel sedimen dengan
cooring untuk melihat ruas-ruas sedimen dasar laut yang berkaitan dengan pengaruh histori samudera akibat pengaruh fenomena fluida atasnya.
"Hal ini tentu saja sangat rawan dan bisa merugikan pihak Indonesia karena bisa disalahgunakan sempel sedimen ini untuk kepentingan analisis lain yang tidak tertulis atau sesuai di
security clearance," tegasnya.
Bahkan, ada laporan dan keluhan yang disampaikan peneliti PPGL ketika menjadi counterpart RV Sonne saat riset di Timur Sumatera dan Jawa, mereka sangat tidak kompromi ketika peneliti Indonesia meminta sampel sedimen hasil cooring yang dilakukan RV Sonne ini.
"Padahal di Filipina, aturan pengambilan sampel sedimen ini sangat ketet perijinan pengambilan sampel baik biota maupun sedimen. Seorang peneliti Indonesia dari LON LIPI sempat tertahan di bandara Aquino Manila dikarenakan membawa sampel air tanpa ijin sah," ujarnya.
Mencermati hal tersebut, IMI menolak dengan tegas rencana tersebut dan meminta KKP mengehentikan rencana tersebut. IMI pun menyarankan agar KKP bekerjasama dengan BPPT, ESDM dan STP untuk melakukan riset tersebut, sebab pasti mampu.
Diketahui, Kapal RV Sonne tersebut akan melakukan survei Oseanografi dan Geologi di Perairan Utara Papua dan sekitarnya. Riset tersebut tentang interaksi lautan-atmosfir di wilayah yang dikenal dengan Warm-Fresh Water Pool (kolam air hangat dan lebih tawar) juga sudah lama dilakukan, terutama oleh negara yang berkepentingan dengan perdagangan yang melalui pelayaran berkaitan dengan prediksi cuaca seperti Jepang (sejak tahun 1996 kerjasama dengan Indonesia), Perancis, USA & Australia belakangan China.
Sementara Jerman selama ini lebih banyak interest di Samudera Hindia Timur Laut (selatan Jawa, Sumatera). Jurnal-jurnal ilmiah berkaitan dengan ENSO (El Nino dan La Nina) serta PDO (pacific Decadal Oscillation) selalu dikaitkan dengan wilayah perairan hangat dan lebih tawar ini.
Karena banyak ilmuwan berkeyakinan bahwa induk dari semua perubahan iklim dapat dideteksi lebih dini di perairan ini. Sinyal perubahan skala atmosfir dapat dideteksi lebih cepat di laut dibandingkan atmosfir itu sendiri.
Amerika Serikat, melalui program Tropical Atmosphere-Ocean (TAO), telah memasang sejumlah mooring buoy disepanjang ekuator Pasifik timur dan tengah, sedangkan untuk ekuator pasifik barat dipercayakan ke Jepang melalui proyek Tropical Ocean Climate Study (TOCS) dengan memasang TRITON Buoy sebanyak 16 titik.
Sedangkan Perancis, lebih banyak bermain di validasi satelitnya terutama altimetry (AVISO), demikian pula halnya USA dengan validasi satelit MODIS (Terra dan Aqua). Jerman nampaknya mulai membuka babak baru, untuk turut berkecimpung masalah prediksi iklim ini. Peneliti Jerman jarang sekali menulis kajian warm-fresh water pool ini, yang bisa dilihat dari jurnal internasional yang diterbitkan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: