Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto tidak sepakat dengan Presiden SBY. Berbeda dengan SBY, Endriartono menyatakan bahwa saat ini tidak seorangpun bisa menjadi diktator dan otoriter bila memegang tampuk kekuasaan.
"Nggaklah kalau demokrasi itu sudah berjalan dengan benar. Kita ini sudah masuk dalam era demokrasi," ujar Endriartono Sutarto kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 21/1).
Dia menjelaskan, sekarang militer tidak memungkinkan lagi kembali seperti zaman Orde Baru. Masyarakat dipastikan akan kembali bergejolak kalau militer melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan demokrasi.
"Itu sudah dibuktikan pada tahun 1998. Kalau rakyat sudah turun, tidak ada yang bisa melawannya. Termasuk juga figur. Figur manapun dengan era sekarang ini sudah tidak bisa lagi berbuat otoriter. Karena sistem sudah berjalan, yaitu sistem demokrasi. Tinggal sekarang menurut saya, hukum harus ditegakkan," ungkap anggota Dewan Pembina Partai Nasdem tersebut.
Meski yakin saat ini tak mungkin orang jadi otoriter, Endriartono tak tahu kenapa sampai SBY menyatakan bahwa demokrasi bisa memunculkan orang kuat yang bisa menjadi diktator kalau memimpin.
"Waduh coba tanya Pak SBY. Saya kebetulan nggak diajak ngobrol sebelum beliau menyampaikan statemennya," kata Jenderal Tarto, panggilannya, sambil tertawa.
Saat menyampaikan kuliah umum dengan tema Indonesia Democracy Outlook yang digelar Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta (Selasa, 15/1), Presiden SBY menyatakan dalam dunia demokrasi biasa terjadi antara dua pilihan; orangnya kuat atau sistemnya yang kuat. Dalam perspektif negatif, orang kuat (strong man) tidak kompatibel dengan kehidupan demokrasi.
"Orang kuat, apalagi itu menjadi diktator, akan memerintah dengan tangan besi dan menjalankan politik yang refresif," kata Presiden SBY sambil mengatakan bahwa ia lebih setuju membangun sistem dan institusi yang kuat daripada melahirkan orang yang kuat. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: