Pedagang Bakso Di Pasar Cipete Berhenti Berjualan

Kios Penggilingan Daging Celeng Digerebek

Jumat, 14 Desember 2012, 09:54 WIB
Pedagang Bakso Di Pasar Cipete Berhenti Berjualan
ilustrasi

rmol news logo Harga daging sapi tengah meroket. Masyarakat perlu waspada jika menemukan bakso yang dijual dengan harga miring. Bisa jadi, mengandung daging babi.

Rabu lalu (12/12) kios peng­gilingan daging di Cipete, d­i­ge­rebek. Di tempat itu, daging sapi dioplos dengan celeng (babi hu­tan). Seperti apa tempat pengop­losan itu? Berikut liputannya.

Kios berukuran 4x4 meter di Ja­lan Damai, Cipete Utara, Ja­karta Selatan tampak sepi. Dua mesin gi­ling dan genset tampak nganggur.

Dua orang mengamati kios yang terlihat kusam dari luar itu. “Pemilik sama karyawannya su­dah tidak menggiling daging lagi sejak ditangkap,” kata Ahmad, pemilik warung rokok tak jauh dari kios ini.

Eka Prasetya, pemilik kios dan tiga karyawannya ditangkap de­ngan barang bukti 50 kilogram daging babi beku dan 15 kilo­gram daging giling tepung.

Lokasi kios penggilingan da­ging ini berada di samping Pasar Cipete. Di deretan ini ada be­be­rapa kios. Nah, kios penggilingan daging terletak di pojok.  Be­r­se­belahan dengan kali kecil.

Di depan kios ada got selebar satu meter. Di atas got dibangun jem­batan untuk menuju kios peng­gi­lingan daging ini. Di sam­ping jembatan dipasang pagar besi.

Begitu masuk ke dalam, ter­lihat kios ini dibagi menjadi dua lantai.  Di lantai bawah ada dua mesin penggiling daging ber­uku­ran besar dan genset. Di be­la­kang­nya bale-bale untuk tempat istirahat. Di samping tempat nga­so itu ada ruangan kecil untuk me­nyimpan daging.

Tangga untuk naik ke lantai berada di samping mesin giling. Lantai atas untuk tempat tidur. Orang yang bekerja di kios peng­gilingan daging ini tidur di atas tikar. Kipas angin kecil dipasang di atap untuk mengusir gerah.

Menurut Ahmad,  Eka mem­buka usaha penggilingan daging sejak dua tahun lalu. Tak terlihat aktivitas yang mencurigakan. Kios ini buka mulai pukul empat dinihari sampai 9 pagi. “Biasanya setiap pagi sudah ramai puluhan pedagang bakso yang meng­gi­lingkan puluhan kilogram daging di tempat ini,” katanya.

Pria berusia 45 tahun ini me­ngatakan kios Eka ramai karena menjual daging giling lebih mu­rah.  Di sini harga daging giling Rp 40 ribu per kilogram. Padahal di tem­pat lain Rp 80 ribu per kilogram.

“Akhirnya kan ketahuan, har­ganya murah karena dicampur de­ngan daging babi. Coba kalau da­ging sapi semuanya, pasti har­gan­ya tidak semurah itu,” katanya.

Ahmad mengaku sering dika­sih bakso buatan kios peng­gi­lingan daging ini. “Bila ada sisa bakso saya selalu dikasih. Karena tidak tahu (bakso mengandung daging babi) saya terima saja. Soalnya rasanya sama,” katanya.

Sejak kios ini digerebek, kata Ahmad, beberapa pedagang bakso yang kerap membeli da­ging giling di sini tak terlihat ber­jualan. “Biasanya di sekitar pasar ini ada empat penjual bakso. Tapi hari ini tidak ada satupun yang berani berjualan,” kata pria yang kaos lengan pendek ini.  

Nurhasan, Kepala Seksi Pe­nga­wasan dan Pengendalian Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Ja­karta Selatan menuturkan, se­belum melakukan peng­ge­re­bekan, pihaknya telah melakukan pengintaian selama tiga minggu.

Pengintaian dilakukan setelah pihaknya menerima laporan ada­nya bakso yang dijual dengan har­ga miring. Dari sini muncul ke­curigaan, bakso itu dibuat dari daging babi. Pasalnya, harga da­ging sapi lebih murah dibanding daging sapi.

Saat ini harga daging sapi mencapai Rp 90 ribu kilo­gram. Sedangkan babi hanya Rp 45 ribu per kilogram. Hasil pemeriksaan Suku Dinas, bakso yang buat di kios ini menunjukkan positif mengandung babi.

Kepada aparat yang meng­ge­re­beknya, Eka, pemilik kios me­ngaku mendapat kiriman daging murah. “Dia mengaku tidak tahu ka­lau daging yang dikirim itu daging babi,” kata Nurhasan.

Tapi Nurhasan tak percaya 100 persen omongan Eka. Ia curiga pengoplosan ini dilakukan untuk mendapat untung besar.   “Tempat usaha ini sudah dua tahun ber­ope­rasi, tapi proses pencampuran da­ging sapi dan daging babinya kita belum tahu sejak kapan,” tegasnya.

Suku Dinas akan menelusuri dari mana daging babi itu ber­asal. “Berdasarkan pengakuan pe­milik si Eka, dia beli daging ba­binya di daerah Cilandak.,” kata Agung Priambodo, Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan .

Dalam catatan Suku Dinas, ti­dak ada pemasok daging babi di Ci­landak. “Bisa jadi itu ilegal. Nanti kita akan telusuri kembali me­ngajak dia (pemilik kios),” katanya.

Selama ini, kata Agung, daging ce­leng dipakai untuk makanan he­wan-hewan buas di Kebon Bi­natang Ragunan maupn Taman Safari Cisarua, Bogor.

Menurut dia,  pemilik kios di­duga melanggar Perda DKI No­mor 8 tahun 1989 tentang Pe­nga­wasan pemotongan dan per­dagangan ternak. Pelanggaran ini kategori tindak pidana ringan (ti­piring). “Sanksinya tiga bulan penjara atau denda maksimal Rp 5 juta,” katanya.

Bakso Daging Babi Ditemukan Di 3 Kecamatan

Bakso yang dibuat dari cam­puran daging sapi dan celeng di­duga beredar di sejumlah wi­layah di ibu kota. Untuk itu, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jaksel melakukan pengujian terhadap bakso yang dijajakan pedagang.

Ada 46 lokasi di 10 ke­ca­ma­tan yang dilakukan pengujian. “Ternyata di tiga kecamatan kami temukan lima penjual bak­so yang positif men­g­gu­na­kan daging babi. Mereka gu­na­kan sebagai bahan utama mem­buat bakso,” katanya.

Tiga kecamatan itu Cilandak, Kebayoran Lama dan Keba­yo­ran Baru. Kepada petugas, para pedagang mengaku membeli bakso jadi. “Pemilik warung beli bakso jadi. Ada juga yang menggiling daging di tempat penggilingan daging yang meng­gunakan daging babi,” kata Agung Priambodo, Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Selatan.

Sebenarnya, kata dia, mudah mengenali daging sapi dengan daging babi. Serat daging babi lebih halus. Sedangkan sapi le­bih kasar. Warna daging sapi le­bih merah ketimbang daging babi. Tapi ini bisa dikelabui. “Modus operandinya (daging babi) dilumuri darah sapi biar kayak daging sapi. Saging sapi lebih merah spesifik dan se­rat­nya lebih tebal-tebal,” katanya.

Pengujian di Jakarta Utara juga menemukan bakso yang terbuat dari daging babi. “Dari 16 sampel yang kami ambil di Pasar Anyar Bahari, Koja, Koja Baru, dan Rawabadak, ada satu yang positif mengandung da­ging babi,” kata Renova Ida Sia­haan, Kepala Seksi Suku Dinas Peternakan, Perikanan, dan Ke­lautan Jakarta Utara.

Kios penggilingan yang me­makai bahan baku daging babi itu berada di Pasar Anyar, Ba­hari. Daging babi yang sudah di­giling dijual ke sejumlah pe­dagang bakso di Pasar Warakas maupn pedagang bakso keli­ling.

“Dia (pemilik kios) kita beri­kan peringatan dulu supaya ja­ngan melakukan praktik itu. Ka­lau membandel kita laporkan ke polisi,” ujar Ida.  

Sejak ketahuan pakai daging babi, pemilik kios menghilang. “Kita akan terus monitoring ke tem­pat penggilingan setiap bu­lan,” kata Ida. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA