Peringatan dan perayaan ulang tahun ke-100 Muhammadiyah di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, hari ini (Minggu, 18/11), awalnya berlangsung dengan sangat meriah. Ribuan warga Muhammadiyah telah mendatangi Stadion GBK sejak pukul 6.30 WIB. Stadion mulai penuh sesak sejak pukul 7.30 WIB. Ratusan bis yang digunakan warga Muhammadiyah dari berbagai daerah di sekitar Jakarta diparkir di sekitar kawasan Senayan hingga ke depan Gedung MPR RI.
Tak sedikit warga Muhammadiyah yang tak dapat masuk ke dalam Stadion GBK. Mereka terpaksa duduk di luar Stadion GBK.
Keadaan mulai berubah menjelang pukul 9.00 WIB. Langit mendadak gelap dan hujan pun mulai turun dengan derasnya. Sampai di sini, warga Muhammadiyah masih menganggap hujan yang turun sebagai rahmat yang diturunkan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang berbaris rapi di tengah lapangan tak melarikan diri. Sebaliknya sorak sorai dan teriakan Allahu Akbar semakim membahana.
Sementara satu persatu mata acara dilakukan. Dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Quran, sambutan Prof. Suyatno yang merupakan ketua panitia, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, hingga testimoni yang disampaikan beberapa tokoh, yakni Jusuf Kalla, Hasyim Muzadi, Zulkifli Hasan dan Ketua Asosiasi Bupati dan Walikota.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin pun tak kalah bersemangat. Ia turun ke bawah, menyapa warga Muhammadiyah di tengah lapangan dengan mengendarai mobil tanpa penutup.
Tak pelak, Din Syamsuddin pun basah kuyup. Tetapi ia semakin bersemangat. Peci hitamnya dibuka dan tangannya dilambai-lambaikan ke arah warga Muhammadiyah.
Usai menyapa warga Muhammadiyah, Din Syamsuddin menuju podium di tengah lapangan untuk mengikuti teleconference dengan pengurus Muhammadiyah di tiga wilayah, yakni Makassar, Malang dan Jogjakarta.
Sementara hujan masih turun dengan deras, dan angin masih bertiup agak kuat. Namun sejauh ini semua mata acara dapat disuguhkan dengan sempurna.
Anehnya, saat Din Syamsuddin hendak berpidato menyapa warga Muhammadiyah baik yang berada di Stadion GBK maupun di tiga wilayah yang mengikuti dengan teleconference, aliran listrik mendadak terputus.
Suara Din Syamsuddin tak terdengar.
Perbaikan membutuhkan waktu satu jam. Dan hujan masih turun dengan deras. Akhirnya perayaan itu pun berakhir begitu saja. Satu persatu tokoh nasional yang hadir meninggalkan GBK. Begitu juga dengan peserta milad.
Saat ini, ratusan atau mungkin ribuan bis yang digunakan warga Muhammadiyah dari sekitar Jakarta sedang bersiap-siap meninggalkan GBK.
Sebagian warga yang hadir tak dapat menutupi rasa kecewa mereka.
"Kami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri agar bisa hadir di GBK," ujar Sunaryadi, warga Muhammadiyah dari Klaten.
Selain itu pembicaraan di kalangan warga Muhammadiyah yang kecewa juga memunculkan spekulasi sabotase. Mengapa listrik mendadak mati ketika Din Syamsuddin hendak berpidato.
Mereka tak percaya, listrik mati karena hujan deras. Pasalnya, hujan deras sudah turun sejak awal. Beberapa mata acara pun dengan sempurna ditampilkan walau hujan turun dengan deras.
Tetapi, sekali lagi, mengapa gangguan listrik terjadi saat Din Syamsuddin berpidato?
Apakah peristiwa ini ada kaitannya dengan sikap kritis Din Syamsuddin terhadap pemerintah. Belum lagi, Muhammadiyah adalah elemen yang memotori judicial review UU 22/2001 Migas yang berbuntut pembubaran BP Migas.
Inilah hal-hal yang antara lain dibicarakan warga Muhammadiyah di saat mereka bertanya-tanya tentang pesta yang berakhir begitu saja dan kemungkinan sabotase di belakangnya. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: