"Itu kan memang ada aktivis-aktivis Papua yang tinggal di luar negeri. Mereka menjalin komunikasi dengan orang-orang baik dengan yang ada di partai politik dan yang konsen dengan hak asasi manusia. Mereka memberikan pemberitaan-pemberitaan yang tidak tepat," ucap dia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/9).
Tentu, lanjut dia, apa yang berkembang di luar negeri, khususnya terkait sayembara itu, harus jadi tantangan bagi seluruh komunitas Indonesia yang ada di luar negeri seperti kedutaan, pelajar atau masyarakat kita yang bekerja di luar negeri untuk menjelaskan bahwa hal tersebut tidaklah benar.
Harus diyakinkan oleh semua pihak bawah sekarang pemerintah Indonesia berusaha maksimal membangun Papua dari semua sisi, baik pembangunan dari sisi fisiknya maupun pembangunan dari segi mentalnya. Perlu juga diyakinkan bahwa Papua akan mendapat perlakuan seperti provinsi-provinsi lain di Indonesia.
Marciano menduga, sayembara tangkap SBY saat lawatan ke Inggris itu terkait kelompok sparatis di Papua.
"Kelompok-kelompok itu bisa. Mereka selalu mengeksploitir kejadian-kejadian yang ada di Papua untuk menceritakan buruknya handling Indonesia terhadap Papua, tapi tidak pernah memberitakan hal-hal positif yang dibangun pemerintah Indonesia di Papua," katanya.
Terkait klaim TWPA bahwa ada 500 ribu orang Papua meninggal dibantah Marciano.
"Tidak betul itu," tandas dia.
[dem]
BERITA TERKAIT: