Konektivitas Kepemimpinan Ekonomi Lemah, Daya Saing Melorot

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Kamis, 06 September 2012, 11:41 WIB
rmol news logo Daya saing Indonesia, sebagaimana terungkap dalam World Economic Forum (WEC), turun dari posisi 46 tahun 2011 sekarang berada di posisi 50 dari 59 negara yang disurvei.  Hal ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah bahwa permasalahan daya saing kita tidak kunjung menunjukkan perbaikan.

Menurut pengamat ekonomi Dahnil Anzar Simanjuntak, setidaknya ada dua penyebab berkaitan dengan rendahnya daya saing Indonesia. "Pertama, buruknya birokrasi yang meliputi korupsi, perizinan yang sulit dan tingginya ketidakpastian. Kedua, buruknya infrastruktur," jelas Dahnil kepada Rakyat Merdeka Online (Kamis, 6/9).

Tapi Dahnil melanjutkan, permasalahan besar yang menyebabkan daya saing Indonesia rendah adalah lemahnya konektivitas kepemimpinan ekonomi. Lemahnya konektivitas kepemimpinan ekonomi, yang ia maksud adalah, dokumen-dokumen RPJP maupun konsepsi MP3EI tidak bisa diakselerasi tanpa ada konektivitas kepemimpinan yang
kuat dengan kepala daerah.

Dalam amatan Dahnil, gubernur, walikota dan kepala daerah berjalan sendiri-sendiri tanpa ada usaha menjaga harmonisasi dan koneksi yang kuat dengan pemerintah pusat.

"Sehingga konektivitas perbaikan daya saing tak kunjung menghasilkan output yang positif pada dua masalah utama, perbaikan birokrasi dan infrastruktur. Sehingga konsepsi-konsepsi seperti MP3EI dan visi perbaikan daya saing yang disampaikan Presiden diabaikan gubernur, walikota dan bupati," lanjutnya.[zul]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA