Pembuatan film Pengejar Angin yang dirilis November 2011 lalu sempat mendapat cemooh. Cemoohan langsung diterima oleh sutradara film tersebut, Hanung Bramantyo.
"Pada awalnya ini hanya dianggap sebagai proyek pemerintah. Kami dianggap artis seniman yang memanfatkan proyek daerah. Banyak sekali kritik, cemoohan kepada kami," ujar Hanung.
Hanung mengungkapkan hal tersebut dalam acara silaturahmi Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, dengan seniman, budayawan dan pendukung film "Gending Sriwijaya" di kediaman Alex Noerdin di Griya Agung, Palembang, Rabu malam.
Film Pengejar Angin diproduksi Pemerintah Sumatera Selatan bekerja sama dengan Putar Production. Film ini menceritakan perjuangan Dapunta, seorang anak Lahat, Sumatera Selatan, dalam meraih cita-cita. Dapunta dikenal sebagai tokoh legendaris masyarakat Sumatera Selatan yang dipercaya sebagai pendiri kerajaan Sriwijaya.
Meski film daerah, film yang memadukan pemain nasional dan aktor lokal ini berhasil menyabet beragam penghargaan. Mathias Muchus berhasil meraih Pendukung Pria Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2011. Dalam film itu, Mathias Muchus berperan sebagai bajing loncat atau perampok besar yang juga ayah Dapunta, yang menghalangi-halangi anaknya untuk meraih cita-cita karena menginginkan anaknya untuk jadi penerusnya.
Sementara dalam Festival Film Bandung 2012, Qausar Harta Yudana dan Ben Sihombing, berhasil menyabet masing-masing sebagai Pemeran Utama Pria Terpuji dan Penulis Skenario Terpuji.
Menurut Hanung, jarang sekali ada film daerah yang mendapat sambutan baik di film Indonesia. Karena itu, atas kesuksesan dan penghargaan yang diterima, dia merasa bersyukur.
"Kita buktikan film adalah film. Film adalah sebuah kebudayaan untuk menunjukkan siapa diri, siapa sosok Dapunta. Saat ini anak-anak Indonesia lebih mengenal Bob Marley. Tapi mereka tidak mengenal Dapunta, Sriwijaya dan tokoh-tokoh Indonesia lainnya," jelasnya.
Cemoohan yang sama juga dialami Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Dia menuturkan, banyak kalangan yang menganggap pembuatan film itu hanya menghambur-hamburkan uang. Tapi dia maju terus, asal film daerah itu dibuat berkualitas. Dan dia juga bersyukur atas sambutan baik masyarakat Indonesia atas film tersebut. "Jadi ini bukan film main-main. Dan sebentar lagi balik modal. Mudah-mudahan. Mari kita doakan," tandasnya sambil mengatakan film tersebut juga bisa mempromosikan daerah. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: