Pada Kamis malam (9/8), Setya mengatakan bahwa tersangka kasus korupsi Al Quran itu telah mengundurkan diri dari Partai Golkar. Keesokan harinya dia luruskan, bahwa pentolan MKGR itu hanya mundur dari keanggotaan Banggar (Badan Anggaran) DPR. Itu pun karena merupakan ketentuan partai, apabila ada kader yang menjadi tersangka kasus hukum, otomatis dia harus mundur dari jabatan pada lembaga kelengkapan Dewan.
Isunya, pernyataan Novanto itu sangat mengejutkan dan memukul perasaan Zulkarnain Djabar yang masih anggota DPR di Komisi VIII. Zulkarnain kabarnya tidak terima pernyataan Setya Novanto yang dianggap terlalu lancan. Pernyataan sang ketua fraksi memantik ketegangan di internal Golkar.
Ada yang menyayangkan, Ketua Fraksi ternyata kurang arif. Di sisi lain, pernyataan terburu-buru itu berpotensi merusak citra Golkar, bahkan bisa merembet kepada pencitraan Ical sebagai capres.
Tokoh senior Partai Golkar Zainal Bintang, yang dihubungi beberapa saat lalu untuk mengomentari hal itu menegaskan dirinya tidak mau ikut campur. Wakil Ketua Wantim Ormas MKGR itu mengatakan, lebih baik masyarakat yang menilai sendiri kualitas elite Golkar yang gegabah membuat pernyataan penting di media massa dan menyangkut nasih sesama kader.
"Ini saatnya bagi Ical (ketum Golkar) menertibkan kader yang cuma bisa asal bunyi alias asbun," singkat Bintang beberapa saat lalu (Sabtu, 11/8).
[dem]
BERITA TERKAIT: