"Sewaktu reses ini, ketika menghadiri acara buka puasa Gerindra di berbagai Kabupaten dan Kota di Sumut, di setiap acara bincang-bincang, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana Fauzi Bowo sebagai Gubernur bisa kalah dan Jokowi yang kelihatannya polos tanpa politik uang bisa menang di putaran pertama?" ungkap politisi senior Gerindra, Martin Hutabarat, kepada
Rakyat Merdeka Online, Rabu (8/8).
Legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara III itu beranggapan, banyak orang di daerah lain melihat kemenangan Jokowi adalah fenomena rindu figur alternatif. Di Sumut, tokoh seperti Jokowi diimpikan muncul pada Pilgub Sumatera Utara 2013 yang akan datang. Pendeknya, kemenangan Jokowi begitu mengesankan pada putaran pertama DKI, menjungkirbalikkan imej yang selama ini tertanam bahwa calon kepala daerah harus menang dengan politik uang.
"Fenomena kemenangan Jokowi menjadi virus perubahan yang luar biasa pengaruhnya di daerah, khususnya di Sumut yang merindukan terlaksananya pilkada di Sumut secara damai tanpa
money politic," ujarnya.
Dia terangkan juga, rakyat Sumatera Utara sudah lama gerah dengan istilah miring "Sumut" atau yang kalau dipanjangkan, "semua urusan mesti uang tunai". Akibatnya, banyak pejabat termasuk Gubernur dan Bupati tersandera karena kasus korupsi.
"Rakyat di Sumut menginginkan pemimpin yang bisa membuat pemerintahan bersih tanpa kasus korupsi. Jokowi adalah salah satu kasus, dia menang pada pilkada di Solo untuk jabatan kedua dengan dukungan 93 persen pemilih tanpa politik uang," ucapnya.
Menurut pengamatannya, "virus" Jokowi mulai menular ke Pilgub Sumut. Rakyat merindukan cagub yang bersih dan merakyat serta menginginkan pilkada yang bersih dari politik uang.
"Virus perubahan yang ditularkan pilkada DKI sangat mendapat dukungan luas dari rakyat Sumatera Utara yang akan mengadakan pilgub di awal tahun depan," tandasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: