Hasil pemilihan kepala daerah yang jauh dari berbagai prediksi, termasuk hasil survei, mencerminkan kegagalan dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai politik. Ini sekaligus menunjukkan kemenangan serta prospek calon independen di masa mendatang.
Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Federasi LSM Indonesia (FELSMI), M. Jusuf Rizal (Jumat, 13/7).
"Bayangkan calon yang diusung parpol besar seperti Demokrat, PAN, PPP, PKB, PKS dan Golkar jeblok. Bahkan calon independen (Faisal Basri-Biem, 4,87%) mampu mengalahkan perolehan suara pasangan Alex-Nono (4,83%) yang diusung Partai Golkar. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan pada parpol makin menurun," ungkapnya.
Begitu juga pasangan Joko Widodo-Basuki T. Purnama, meski meraih suara terbanyak (44,5%) bukan mencerminkan suara PDIP dan Gerindra saja, tapi lebih karena melihat sosok Jokowi dan suara di luar partai (swing voter). Hal yang sama dengan PKS, yang mengusung Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini ternyata hanya mampu mencatat suara 11,1 %. Padahal saat PKS mengusung Adang Daradjatun (2007) mampu meraih dukungan 46%.
"Jadi dari hasil Pilkada DKI terlihat bahwa kepercayaan terhadap parpol makin rendah dan ditambah lagi banyak mesin parpol tidak bekerja baik. PKS, umpamanya yang merasa pede dengan hasil Pilkada 2007, ternyata pemilihnya tidak lebih dari 11,1%. Golkar yang katanya all out dukung Alex-Nano hasilnya sangat mengecewakan," tegas Jusuf Rizal.
Melihat konfigurasi ini, terlihat pasangan calon independen ke depan memiliki prospek yang bagus, sebab hasilnya cukup bagus. Stigma bahwa calon independen "tidak laku" dijual salah besar. “Jika figur calonnya bagus, calon independen akan dapat memiliki peluang besar,†tandas Presiden LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) ini. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: