Jepang dan Taiwan Tularkan Ilmu Ovov

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/dede-zaki-mubarok-1'>DEDE ZAKI MUBAROK</a>
LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK
  • Senin, 02 Juli 2012, 14:08 WIB
Jepang dan Taiwan Tularkan Ilmu Ovov
SYARIEF HASAN/IST
RMOL. Jepang dan Taiwan akan menularkan ilmu dan pengalamannya tentang penerapan program One Village One Product (OVOP) kepada Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan, dalam acara Temu Nasional Pengembangan Produk Unggulan Desa, One Village One Product (OVOP) melalui Koperasi, di Gedung SME Tower Jakarta, Senin (2/7).

"Saya senang mendengarkan akan ada pembicara dari Jepang dan Taiwan. Saya Sendiri sudah sempat melihat bagaimana Jepang mengembangkan OVOP," katanya.

Syarief meminta kepada pelaku koperasi dan UKM dari berbagai provinsi yang turut serta dalam forum itu menimba ilmu secara optimal tentang OVOP dari perwakilan Jepang dan Taiwan.

Menteri juga berharap dari pertemuan itu maka pelaku koperasi dan UKM dapat menerapkan dan mengembangkan OVOP yang disebutnya produk unggulan desa di daerahnya masing-masing.
     
"Jangan malu bertanya karena dengan demikianlah kita dapat memperkaya wawasan kita untuk mengembangkan produk unggulan desa ke depan," katanya.
    
Pihaknya sendiri mengembangkan program produk unggulan desa OVOP melalui koperasi sebagai salah satu upaya untuk mempercepat pembangunan di desa sekaligus untuk mengurangi urbanisasi.
    
Menurut dia, jika produk unggulan desa berkembang, kesejahteraan rakyat meningkat sehingga kemiskinan berkurang dan mendorong pengurangan pengangguran.
    
"Saya yakin, mengangkat produk unggulan desa dengan pendekatan OVOP ini merupakan salah satu yang bisa kita lakukan untuk menekan tingkat kemiskinan dan pengangguran," katanya.
    
Syarief menambahkan, hal itu sudah banyak dibuktikan di negara lain yang menerapkan OVOP di antaranya di Jepang, Taiwan, Korea, dan Thailand.
    
"Bahkan sudah lebih dari 51 negara di dunia mengadopsi konsep OVOP ini," katanya.

Sesuai prinsip di Indonesia, Menteri menegaskan, pengembangan produk unggulan desa akan diarahkan pada orientasi lokal dan global sekaligus pengembangan kreativitas, inovasi, dan kemandirian.
    
Sejumlah daerah yang telah mengembangkan program produk unggulan desa yang dinilainya sukses adalah Kintamani, Bali, dan Lampung dengan kopi luak, Kulonprogo DIY dengan gula merah, Bantul DIY dengan gerabah, Tasikmalayadan Bukittinggi dengan kerajinan bordir, Pacitan dengan batik tulis, Sintang dan Bangka Belitung dengan Tenun.
    
Menteri berharap ke depan akan ada lebih banyak daerah yang mengembangkan produk unggulan desanya masing-masing. [dzk]
 

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA