Rasa kehilangan itu disampaikan salah satu pendaki senior dari Surabaya, Dokter Agung Hadyono kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat yang lalu, (Minggu, 22/4).
Menurut dokter para pendaki ini, kemungkinan besar Wamen ESDM meninggal dunia karena kecapean setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta.
"Bayangkan saja, beliau terbang dari Jakarta pukul 03.00 pagi pada hari Jum'at, dan pukul 21.00 sudah berada di ketinggian 1.900 mdpl, setelah menempuh pendakian dengan berjalan kaki dari ketinggian 1.500 mdpl (batas akhir kendaraan) tentu sangat capek dan melelahkan," ujar Agung Hadyono yang pernah berkonsultasi tentang Gunung Elbrus dengan Widjajono Partowidagdo di tahun 2011 yang lalu.
Menurutnya,
summit attack yang dimulai pada hari Sabtu, pukul 03.00 pagi, membuat istirahat Wamen menjadi kurang, sehingga kelelahan dan terlampau memaksakan diri untuk tetap mendaki menuju puncak Tambora (2.850 mdpl).
Karena kecapean inilah yang menyebabkan terpicunya atherom yaitu lepasnya endapan lemak dalam pembuluh darah akibat jantung yang bekerja secara cepat sehingga menimbulkan penyumbatan di pembuluh darah arteri koronaria yang menuju ke jantung sehingga jantung tidak mendapat pasokan oksigen.
"Gejala awalnya adalah nyeri di dada, atau sesak nafas, " jelas Agung Hadyono.
[ysa]
BERITA TERKAIT: