Demikian analisa di balik kunjungan Akbar ke RSCM, menengok mahasiswa UPI YAI Jakarta yang tertembak peluru aparat dini hari tadi. Analisa itu disampaikan pengamat politik The Indonesian Institute, Abdul Rohim Ghazali, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 30/3).
Dikatakan Rohim, tindakan Akbar tersebut tidak bisa dikatakan sebagai upaya dia untuk memperingatkan SBY agar tidak menganggap sepele protes-protes mahasiswa atas rencana kenaikan harga BBM. Sebab, dari awal SBY sudah memerintahkan agar menindak demonstrasi terkait isu tersebut.
"Perintah SBY menindak demonstran justru karena SBY sudah menganggap demonstran sebagai ancaman. Makanya ia bertindak keras terhadap para demonstran," jelas Rohim.
Ia menambahkan, Presiden SBY sudah salah perhitungan sampai-sampai memerintahkan agar pendemo ditindak dengan tegas. Hal itu akibat SBY mendapat informasi yang kurang tepat mengenai situasi nasional. Seharusnya, menurut dia, anggap protes-protes yang ada sebagai kritik biasa atas kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat.
Di lain hal, lanjut Rohim, kalau SBY yakin dan merasa benar dengan kebijakan menaikkan harga BBM, ajak demonstran berdialog. Bukan malah digebuki atau ditembaki.
"SBY selalu merasa dirinya terancam. Itu yang membuatnya salah perhitungan. Sebenarnya pemimpin tidak perlu merasa terancam kalau merasa benar-benar tidak bersalah. Merasa terancam itu sinyal bahwa dirinya bersalah pada rakyat," tutup Wakil Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah itu.
[dem]
BERITA TERKAIT: