Hal itu dikemukakan Direktur Pusat Kajian Timur Tengah (PKTT) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ, Hery Sucipto, kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Jumat, 21/10) saat dimintai tanggapan terkait tewasnya pemimpin kharismatik tersebut.
Menurut Hery, reformasi Libya kini mendapatkan momentum terbaiknya, seiring jatuhnya kekuasaan despotik. Untuk itu, ia berharap peluang dan kesempatan berharga ini tidak terlewatkan dengan sia-sia.
"Kini saatnya hukum sebagai panglima, perubahan menyongsong, dan demokratisasi kehidupan sosial, politik, dan bernegara secara umum, di hadapan mata. Jangan sampai peluang ini hilang, karena ongkosnya terlalu mahal," ujarnya.
Tantangan terberat membangun kembali Libya, lanjut peneliti The Fatwa Center ini, datang dari rakyat Libya sendiri. Tantangan itu adalah persatuan dan rekonsiliasi. "Tanpa adanya persatuan dan rekonsiliasi seluruh elemen rakyat, mustahil dapat membangun Libya dengan baik," paparnya.
Ia menambahkan, jika upaya rekonsiliasi gagal, maka kedepan akan jadi bom waktu dan tak mustahil muncul kekisruhan baru seperti perang saudara.
[zul]
BERITA TERKAIT: