Demikian disampaikan pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi saat diwawancara salah satu TV swasta sesaat lalu (Senin, 10/10).
Menurut Burhan, Presiden SBY tidak mungkin menendang Golkar dan PKS sekaligus. Sebab, kalau dilakukan maka otomatis kekuatan koalisi di parlemen akan berkurang banyak. Pemerintah hanya tinggal disokong 45 persen saja. "Itu terlalu riskan," katanya.
Ada gejala, katanya, PKS yang bakal ditendang. PKS selama ini dinilai tidak disiplin dan kurang loyal dalam mendukung program-program pemerintah. PKS selalu main dua kaki, masuk ke dalam pemerintah di satu sisi tapi juga mengkritisi pemerintahan di sisi lainnya.
"Kalau PKS dibuang, akibatnya Golkar akan kehilangan tandem yang baik. Tandem untuk memainkan peran kritis di parlemen yang selama ini mereka lakukan kepada pemerintah," katanya.
Jika PKS ditendang, sambungnya, maka Presiden punya pilihan lain. Harus 'menenangkan' Golkar. Penambahan jatah menteri bagi Golkar di kabinet bisa membuat Golkar tidak lagi main di dua kaki. Golkar akan solid di dalam pemerintahan dan pemerintahan akan aman.
"Untuk tidak main di dua kaki lagi Golkar ditambah jatah menterinya dari menteri-menteri PKS," sebut Burhan.
Kalau skenario PKS ditendang jadi dilakukan Presiden SBY, menurutnya, maka akan terjadi
out of position dari kelompok oposisi di parlemen. Dalam isu-isu tertentu, khususnya soal agama, PKS dibaca tidak akan ketemu dengan PDI Perjuangan, karena keduanya punya ideologi partai yang berbeda.
"Isu-isu agama sulit bertemu. Kalau isu soal non agama, misalnya soal garam, beras dan lain-lain masih bisa bersatu," bebernya.
Dalam hemat Burhan, kalau SBY menendang PKS dari pemerintahan maka bisa dipastikan Ormas-ormas maupun organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan PKS akan rajin turun ke jalan.
"Perlu diingat PKS mengandalkan gerakan ekstra parlementer. Kalau dibuang, sayap-sayap Ormas yang punya kedekatan dengan PKS akan rajin mendemo pemerintahan," demikian Burhan.
[dem]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: