"Menteri Perdagangan ini konsepnya salah. Karena dia itu dari dulu dalam tulisan-tulisannya tahun 90-an, dia sudah percaya dengan yang namanya satu masyarakat Asia," kata pengamat ekonomi politik Syahganda Nainggolan kepada
Rakyat Merdeka Online kemarin.
Perdagangan bebas menjadi kunci dalam pembentukan masyarakat Asia. Karena itu, mantan peneliti Center for Strategic and International Studies itu dinilai termasuk orang yang tidak percaya akan batas negara. Padahal, kata Syahganda, kita tetap menganggap bahwa batas negara dan nasionalisme itu penting dan harus dijunjung.
Pemikiran kedua Mari E Pangestu, lanjut Syahganda, sebuah negara tidak penting harus membangun industri tumbuh berkembang. Karena yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mendapatkan barang-barang kebutuhan yang berharga murah.
"Jadi ini orang yang pahamnya itu sangat neolib. Nggak penting kita muncul nasionalisme, industri, daya saing. Yang penting rakyat dapat harga garam murah, harga sayur murah. Itu pikiran yang salah kaprah. Kalau misalnya harga garam diambil (impor agar) murah, kapan garam dalam negeri ini bisa didorong tumbuh berkembang," sebut pendiri Sabang Merauke Circle ini.
Diakui Syahganda, tentu lah ada
gap antara negara maju dan negara berkembang. Sehingga terkadang-kadang terjadi selisih atau beda harga antara satu negara dengan negara lain. Kerap memang, harga barang dalam negeri lebih mahal dibanding harga barang yang dari luar negeri. "Nah tugas, Mendag adalah memperoteksi kepentingan dalam negeri agar industri kita bisa tumbuh berkembang," ungkap Syahganda.
Karena tidak berpihak terhadap industri dalam negeri, menurut Syahganda, Mari E Pangestu harus dicopot dari jabatannya. Karena sudah jelas, kebijakan-kebijakannya sangat merugikan Indonesia dan menguntungkan China, dalam konteks hubungan dagang Indonesia-China, misalnya.
"Kalau sudah tidak punya nasionalisme ya harus (dicopot). Dia itu sudah jelas-jelas dalam konteks kita dengan China, dia kelihatan pro China. Menteri yang paling neolib di Indonesia sebenarnya ya dia. Dia lebih neolib daripada Sri Mulyani. Sri Mulyani, berpikir nasionalisme masih ada," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: