"
Assalamualaikum mas, kami datang." ucapan salam di malam awal musim dingin itu cukup mengagetkan. Ketika pintu warna coklat tua itu dibuka, dua insan dengan rambut panjang terurai, dada membusung dan parfum menyengat persis berdiri di hadapan. Dandanan keduanya
hmm sungguh menyolok dan cenderung norak. Lipstik merah setengah hitam menempel di bibir. Badannya yang cenderung ceking dibalut pakaian wanita yang lumayan seronok dan mematik mata.
Sontak ruangan lima kali lima meter itu berubah nuansa. Bau parfum segera menyergap seluruh penjuru. Menuju langit-langit hingga ke bawah kursi. Bila bisa berbicara, pastilah semua benda mati yang ada di ruangan memperhatikan dua makhluk Tuhan itu sambil berdecak,
ck ck ck. Kagum setengah bingung.
Agak kikuk juga menghadapi tamu kali ini. Batin berdegub keras dan seribu pertanyaan membayang. Sementara di luar sana, salju tipis mulai turun berderai-derai. Tampak jelas dari kaca yang sudah buram.
Yang tinggi, kurus, kulit bening dengan muka tirus memperkenal diri bernama E, satunya yang berperawakan sedang, bibir tipis manis dan berparas cantik lebih suka dipanggil S. Tidak terbersit kegelisahan berat dari raut mukanya. Meskipun begitu, keduanya mengaku nasibnya lagi apes. "Mas, kami ini adalah korban," ujar S sambil merapatkan kedua kakinya sehingga terlihat lebih feminin.
Setelah bincang-bincang sesaat barulah terkuak sebagian tabir itu. Satu diantaranya adalah waria yang berasal dari Jawa Timur, sedangkan lainnya dari Kalimantan Timur. Keduanya mengaku baru lolos dari jaring mafia waria di salah satu kota metropolitan dunia, Moskow. Sambil terus bersyukur, "pria" yang telah melakukan operasi plastik bagian dada di Surabaya itu mulai sesenggukan mengadukan nasibnya.
Walaupun mengaku pergi ke negeri ujung dunia bagian utara untuk liburan, namun ditengarai kepolosan mereka telah dieksploitasi pihak yang sering disebut kelompok mafia perdagangan manusia tingkat internasional. Pengalaman enak yang pernah mereka rasakan saat bersama seorang tamu asing berkelana di negeri kangguru dan Eropa Barat, diimpikan dapat menjelma kembali. Sayang, itu semua hanya sebatas utopia dan ilusi. Kali ini nasib buruk yang ditemui.
Bayangkan saja, belum juga selesai melancong, mereka dimasukkan sebuah apartemen mewah untuk melayani para pria petualang pecinta seks gaya bebas. Menyervis para adventurir yang suka mengeksploitasi sesuatu yang tidak lazim. Manusia-manusia yang suka keanehan. Dalam sehari, tamu hilir mudik untuk melampiaskan syahwat anehnya di ruangan yang di-
design sangat unik dan romantis. Bahkan, kalau ada permintaan panggilan, mereka hanya memiliki kata siap.
Tidak begitu jelas apakah hal itu sepenuhnya sebuah paksaaan ataukan ada juga unsur kerelaan. Hanya hati mereka yang bisa mengetahuinya. Buktinya, mereka diiklankan secara professional dan dijajakan melalui berbagai media dengan pose yang menantang sekaligus menjijikkan.
Dalam sehari masing-masing bisa melayani sampai 6 pelanggan dengan bayaran pada kisaran 160 dolar untuk
short time. Sedangkan bila dibooking sehari, harga bisa melonjak menjadi 1.000-an dolar. Maklum, mereka berdua ini mungkin tergolong "ayam" papan menengah atas. Golongan makhluk unik.
Sayangnya, uang ribuan dolar yang berhasil dikeruk dari tubuhnya yang sintal tidak menetes kepada waria kita. Saat dipertanyakan, sang majikan kabarnya selalu mengelak bahwa hasil cucuran keringat mereka dipakai untuk kompensasi biaya penerbangan dan jalan-jalan di Rusia.
There is no free lunch, Bung! Entahlah, sebenarnya berapa dolar yang dibutuhkan melunasi hutang itu, karena meski bekerja berbulan-bulan tidak pernah terselesaikan.
Kejamnya lagi, kemanapun mereka pergi selalu dikawal pria berotot. Sepertinya, mereka berdua hanya dijadikan mesin pengeruk uang dan tidak pernah dimanusiakan. Persis ikan dalam akuarium yang hanya memberikan kesenangan pemiliknya.
Udara musim dingin yang mulai menyengat dan kepenatan hati yang makin dalam membuat waria kita tidak tahan. Apa yang pernah menjadi impiannya mulai kandas. Sementara, laki-laki petualang cinta selalu saja menunggu giliran mencicipi tubuh mereka yang masih ranum, muda belia.
Untuk mencukupi kebutuhan dirinya, diam-diam mereka mengumpulkan tips yang diberikan pelanggan. Dan untuk mendapatkan lebih banyak, servis yang diberikan juga semakin mak nyus. Harus lebih hot dan memberikan sentuhan batin yang lain dari yang lain. Dijabani dengan resep dan jampi-jampi khusus ketika melakukan kegiatan esek-esek aneh. "Saya pernah dikasih tip seribuan dolar. Pelanggan puas habis," kata E nyengir.
Diakui, dari sekedar tip dan uang transport yang diberikan pelanggan, mereka bisa hidup dan membeli aneka kebutuhan wanita seperti
eye shadow, g-string model baru hingga bra yang warna warni. Jauh lebih lumayan dari bekerja di negeri sendiri.
Bisa jadi, itulah kehidupan yang memang diinginkan oleh sang mafia. "Anak-anak" dibiarkan hidup dengan mengandalkan tips dan uang transport, sedangkan uang esek-esek yang nilainya ratusan dolar per-transaksi ditelan sendiri. Ribuan dolar hasil keringat dan desahannya diambil sang "emak", sedangkan kecretan uang receh dikais oleh sang "anak".
Sementara itu, dengan paspor di tangan majikan maka para waria kita tidak mampu berbuat banyak. Kalau berani melarikan diri dan ditangkap polisi maka dapat dipastikan akan menghuni hotel prodeo. Bila tetap di rumah muncul kejenuhan. Persis buah simalakama. Maju kena, mundur juga kena.
Uniknya, karena memang harus survive dari belas kasihan berupa tips dan uang transport semata, waria kita berusaha untuk tetap irit dalam hidup. Dengan prinsip sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, maka kurang dari tiga bulan telah terkumpul tabungan beberapa ribu dolar. Untuk apa uang itu? Entahlah, karena mereka tidak pernah bisa meninggalkan ruangan bordil tanpa paspor.
Kehidupan semakin sulit ketika keduanya dipindah ke sebuah apartemen dengan keamanan yang lebih ketat. Daun jendela tidak bisa dibuka karena gagangnya dicopot, sedangkan pintu ditutup rapat dengan penjagaan tidak main-main. Bahkan, salah seorang waria mengaku sebagian uangnya telah raib. Dalam dunia kelam itu, rupanya sering ada kejadian "teman makan teman" atau
exploitation de l’homme par l’homme.
Awal Nopember itu, kebebasan mereka baru terbuka ketika bordil yang mereka tempati tiba-tiba disambangi oleh yang berwajib. Dengan bantuan seorang langganannya maka keduanya mampu "melarikan diri" menuju tempat yang diperkirakan aman. Mereka lari terbirit-birit seperti dikejar hantu pocong.
Di malam awal musim dingin tersebut, hanya dipisahkan oleh sebuah bangku kecil kedua waria mengaku sangat shock dengan kejadian yang menimpanya. Ada kekalutan dan kekecewaan yang campur baur dengan kegembiraan. Ingin segera pulang kampung meski uang dalam tas hitamnya jauh dari mencukupi untuk membeli tiket.
"Mas, saya kapok tenan deh, tidak akan mengulangi. Pasrah saja asal bisa pulkam. I lop Indonesia pull," katanya E dengan senyum menggoda. Dengan suara datar, saya hanya menjawab pendek: "Kapok beneran atau kapok lombok?" Uh, tiba-tiba bau parfum minyak nyong-nyong itu kembali berkelebat dan membuat kepala ini pusing tujuh keliling.
(M. Aji Surya adalah diplomat Indonesia pada KBRI Moskow, [email protected])