Namun, ada yang unik dari cara umat Islam menghiasi perayaan Lebaran tiap tahun. Menjelang hari raya Idul Fitri bahkan jauh hari sejak Ramadhan dimulai, hampir semua umat muslim di Indonesia disibukkan oleh tradisi-tradisi yang sudah melekat bertahun-tahun ini. Sebut saja, tradisi berpakaian baru di Hari Lebaran. Banyak kalangan masyarakat kita rela merogoh kocek dalam-dalam untuk sekedar berpakaian baru di saat Lebaran. Mereka pun bersedia berdesak-desakan antri di pasar atau mal yang menjual berbagai keperluan di Hari nan fitri.
Barang yang berlabel "
sale" pun jadi serbuan para pembeli menjelang lebaran ini. Selanjutnya, tradisi pulang ke kampung halaman atau mudik juga menambah ragam tradisi masyarakat muslim di Indonesia. Sekitar lima atau empat hari sebelum lebaran, macet tahunan turut mengiringi perjalanan mudik di negeri ini.
Setidaknya inilah sekelumit gambaran budaya yang berkembang di kalangan masyarakat muslim Indonesia setiap tahunnya, terutama menjelang lebaran. Budaya konsumtif sepertinya telah mengakar dan menjadi tradisi tahunan. Bahkan, hal ini cenderung menjadi budaya yang hura-hura dan jauh dari substansi dan makna "Idul Fitri" itu sendiri yang berarti "kembali pada fitrah, asalnya yang suci."
Mengenai konsumerisme itu sendiri, menurut Profesor Abdul Munir Mulkan, seorang guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, memiliki makna yang bermacam-macam bagi banyak pihak. Bagi kelas bawah misalnya, perilaku konsumtif itu terlebih sebagai unjuk rasa atau pamer. Meskipun hal itu sebagai pemborosan yang luar biasa. Namun budaya konsumtif ini memperoleh momentumnya menjelang lebaran ini. Budaya tersebut, menurut Prof. Mulkan sebetulnya tidak sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan agar umat Islam lebih mampu mengendalikan hawa nafsunya. Selain itu, membantu sesama terutama yang lemah, dan memperbaiki perilaku diri. "Bukan justru untuk memamerkan pakaian baru," cetusnya.
Tidak hanya itu, tradisi 'memberi' di kalangan masyarakat juga dinilai telah menyimpang. Misalnya di kalangan orang yang mampu, Mulkan melihat rasa kemanusiaan itu sudah berkurang.
"Seperti yang kita lihat, banyak tradisi sembako pada Hari yang Fitrah ini diberikan dengan cara diumumkan dan disebutkan berapa nilainya. Bahkan, sedekah atau zakat itu pun seringkali mengundang orang untuk berdesak-desakan," katanya.
Tidak jarang, cara seperti itu menimbulkan korban jiwa baik yang terluka maupun meninggal. Hal ini tekan Mulkan, jelas tidak mencerminkan muslim yang terhormat. Seyogyanya, zakat itu diantar kepada orang yang membutuhkan, bukan dengan cara mengantri dan berdesakan.
Di sisi lain, para pemimpin baik dari kalangan agama, politik dan negara juga kurang memberi teladan. Mulkan menambahkan, banyak tausiyah dari para pemimpin jorjoran peduli pada orang kecil. Tetapi disayangkan, bentuk peduli mereka justru untuk mengumpulkan suara.
Oleh karena itu, Mulkan berpandangan, langkah yang harus digerakkan ialah dengan "menafsir ulang" ajaran dan makna Idul Fitri itu sendiri. Idul Fitri ini sudah seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk memberdayakan masyarakat agar lebih produktif. Bukan hanya memberi dalam bentuk zakat atau sembako saja tapi juga menjadi momentum untuk memecahkan masalah ekonomi dan sosial.
"Salah satu upaya untuk memberikan kesadaran itu menurut Mulkan, yaitu melalui gerakan di bidang pendidikan. Ulama-ulama harus berusaha memberikan kesadaran pada masyarakat, untuk menafsir ulang apa makna Hari yang Fitrah ini. Hari dimana umat Muslim saling memaafkan, peduli pada sesama, dan bertafakur diri," demikian Prof Mulkan.
[wid]
BERITA TERKAIT: