Penghambaan yang diwajibkan oleh-Nya kepada manusia ditujukkan untuk kebutuhan manusia itu sendiri. Maka sejatinya setiap ritual keagamaan tidak berhenti pada dimensi teologis-vertikal semata. Penghambaan kepada-Nya harus melintasi dimensi sosiologis- horisontal sehingga berdampak pada pengabdian terhadap sesama.
Begitu juga dengan ibadah puasa Ramadhan yang selalu dilakukan oleh setiap muslim di dunia. Secara teologis-vertikal, puasa diperintahkan Tuhan untuk
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan seorang mukmin (QS. 2: 183).
Karena efek iman dari puasa sangat privat di mata Tuhan, maka dalam berbagai hadits disebutkan bahwa ibadah puasa langsung diganjar oleh Tuhan saat itu juga. Hanya ibadah puasa yang tidak bisa diketahui oleh kasat mata penilaian manusia. Ibadah puasa tidak bisa dipertontonkan kepada orang lain. Begitu juga seseorang tidak bisa menilai orang lain sedang berpuasa atau tidak. Hal ini berbeda dengan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, dan haji.
Secara bahasa, puasa berarti menahan (
al imsak). Artinya menahan dari makan, minum, atau hubungan suami istri dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain melatih kesabaran, menahan rasa lapar, haus, dan hasrat seksual ini bertujuan untuk meminimalisir dorongan biologis hewani manusia yang seringkali melampaui batas. Dorongan hewani ini membuat manusia rakus, serakah, korup, dan mengumbar hawa nafsu. Akibatnya, sifat insani manusia yang mulia dinodai oleh lumpur-lumpur dosa.
Untuk mengikis sifat hewani manusia ini, Tuhan menciptakan bulan Ramadhan
sebagai bentuk kasih sayang kepada para hamba. Ramadhan, secara bahasa,
merupakan bentuk derivatif dari
ramadha-yarmadhu yang artinya membakar.
Pakar gramatika Bahasa Arab, Imam Al Raghib Al Isfahani menyebut Ramadhan sebagai momentum untuk membakar segala dosa dengan amal-amal yang baik (
yarmadu al dzunub bi ‘amali al sholihat). Karena itu pula, Ramadhan seringkali disebut sebagai bulan pengampunan (
syahr al maghfirah).
[***]
BERITA TERKAIT: