Atribut-atribut itu antara lain Islam tradisionalis, modernis, neo-tradisionalis, neo-modernis, liberal, radikal, fundamentalis, ekstream kiri, ekstream kanan, dan lain-lain. Ketua umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P Daulay menyebutkan, dari sekian banyak atribut tersebut, istilah Islam liberal dan radikal yang paling banyak digunakan. Bila dicermati secara cerdas, penggunaan istilah itu sangat merugikan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat muslim.
Dengan adanya kategorisasi liberal dan radikal, menurut Saleh, secara tidak langsung telah memecah belah umat Islam. Sebab, tidak mungkin diharapkan lagi antara kelompok liberal dan radikal duduk satu meja membicarakan masalah umat Islam yang berbentuk kemiskinan dan kebodohan. Saleh pun berpendapat, sudah sepatutnya umat Islam meninggalkan kategorisasi yang seperti itu. Saatnya umat Islam berhimpun dengan apa yang disebut umatan wahidah (umat yang satu).
"Majelis Ulama tentu memiliki peran strategis dalam merajut ukhuwah ini. MUI bisa mendudukkan secara bersama kelompok yang dinilai liberal dan radikal. Mereka diminta untuk berdialog dan berdiskusi dalam menyelesaikan perbedaan perspektif tentang ajaran Islam yang selama ini ada," demikian Saleh dalam acara diskusi panel yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesi di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (30/7).
[wid]
BERITA TERKAIT: