Demi melindungi negara dari ancaman gagal bayar utang pada batas akhir pembayaran 2 Agustus 2011, Obama harus berdebat melawan Partai Rebublik yang menguasai kongres mengenai upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
Walau semakin didesak waktu, Gedung Putih dan Kongres tak kunjung mencapai titik temu dalam upaya pemerintah menaikkan plafon utang, demi menghindari negara ekonomi terbesar itu dari gagal bayar.
Pada pertemuan yang diadakan di Washington pada Jumat (22/7) malam waktu setempat (Sabtu pagi WIB), Ketua DPR AS yang juga merupakan politisi Partai Republik, John Boehner, meninggalkan pertemuan Kongres dengan Obama di Gedung Putih.
Dalam suratnya kepada anggota DPR, Boehner menyatakan bahwa ia meninggalkan ruang pertemuan karena menduga presiden dari Partai Demokrat akan menegaskan keinginan untuk menaikkan pajak terhadap warga dan perusahaan kaya.
Sikap John Boehner ini membuat Obama naik pitam yang dengan emosional meminta para pemimpin Kongres yang di dalamnya merupakan anggota DPR dan senat untuk melakukan sebuah pertemuan darurat di Gedung Putih, hari ini (Sabtu, 23/7).
"Kita sedang dikejar oleh waktu, 2 Agustus sudah di depan mata. Saya berharap mereka (politisi Partai Republik) untuk menjawab apa yang bisa mereka lakukan hingga pekan depan karena rakyat Amerika berharap aksi nyata (dari mereka)," ujar Obama seperti dikutip
CNN (Sabtu, 23/7).
Dari pertarungan utang ini jelas terlihat pertempuran ideologi dan prinsip antara Demokrat dan Republik. Obama dan Partai Demokratnya berupaya untuk menaikkan plafon utang dengan cara menaikkan pajak bagi orang-orang kaya, sedangkan Partai Republik menginginkan pemerintah memotong anggaran secara besar-besaran khusunya bagi jaminan sosial.
Obama sudah menyatakan kesediaannya untuk memotong anggaran hingga 4 triliun dolar AS dalam satu dekade mendatang dengan syarat Partai Republik juga menyetujui kenaikan pajak. Namun kesediaan Obama tersebut tidak juga disambut baik politisi Partai Republik.
[ald]
BERITA TERKAIT: