Di wilayah Tangerang Selatan, misalnya di Pondok Aren dan beberapa daerah pinggiran Jakarta Selatan yang terkenal sebagai industri rumahan konveksi atau pakaian banyak yang gulung tikar. Penyebab diantaranya adalah modal macet, pemasaran produk tersendat dan mahalnya bahan baku yang harus dibeli, sementara akses modal yang ditawarkan pemerintah lewat KUR (Kredit Usaha Rakyat) tidak mudah didapat.
Tugino (34 tahun), salah satu pengusaha konveksi rumahan yang ditemui
Rakyat Merdeka Online di kawasan Kampung Ceger Pondok Aren misalnya, mengeluhkan tidak adanya perhatian dari pemerintah terhadap usaha konveksi di daerahnya tersebut, sehingga usahanya yang telah berdiri 12 tahun akhirnya juga harus tutup karena kurangnya modal.
"Saya sangat kecewa dengan pemerintah yang tidak memperhatikan usaha kami yang kecil-kecil ini. Kami tidak menuntut apa-apa, minimal kami dimudahkan akses untuk mendapatkan modal usaha saja. Termasuk juga kalau bisa ada pembinaan dari koperasi atau apalah dari pemerintah ini," katanya.
Seperti diketahui, home industri konveksi yang ada di kawasan Tangerang dan Jakarta Selatan rata-rata mempekerjakan 10 sampai 15 orang pekerja yang notabene juga pekerja berpendidikan rendah atau putus sekolah.
Selain mengeluhkan persoalan modal usaha, para pengusaha konveksi pun mempersoalkan maraknya pakai-pakaian import bekas yang banyak beredar di pasaran, sehingga produk mereka kurang laku karena kalah bersaing dari pakaian import bekas tersebut.
[dem]
BERITA TERKAIT: