Menurut Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (Maki) Bunyamin Saiman, ketidakjelasan dalam mencokok Nazaruddin di Luar Negeri terjadi lantaran selama ini Presiden SBY, Demokrat dan KPK bersandiwara. Mereka cuma pura-pura mengejar M Nazaruddin.
"Semua yang mereka lakukan cuma sandiwara. Upaya-upaya mereka kamuflase saja. Mereka pura-pura, tak pernah serius menangkap Nazaruddin," ujar Bunyamin kepada
Rakyat Merdeka Online, beberapa waktu lalu.
Nazaruddin kabur ke Singapura sehari sebelum KPK, melalui Dirjen Imigrasi, menerbitkan surat cegah untuknya. KPK, kata Bunyamin, tidak sigap. Sudah tahu Rosa anakbuahnya sejak lama, tapi kelamaan menetapkannya sebagai tersangka. "Jelaslah, KPK cuma main-main doang," katanya.
Kalau SBY serius ingin menangkap Nazaruddin, kata Bunyamin, sangat gampang. Negara-negara Asean pasti sangat peduli dan akan membantu menahan Nazaruddin kalau SBY, selaku Presiden dan ketua ASEAN, meminta bantuan mereka.
Nazaruddin meninggalkan Singapura karena diusir oleh mereka. Mereka memberitahukan kepada pemerintah kalau Nazaruddin sudah meninggalkan negaranya dan terbang ke Ou Jing In, Vietnam.
"Bukankah itu bentuan dari Singapura. Lalu kalau serius, setelah dikabari, SBY seharusnya langsung menghubungi pemerintah Vietnam meminta menahannya di Bandara. Kan ini tidak," kata Bunyamin.
Sandiwara Demokrat, kata Bunyamin, juga kentara. Awalnya mereka semua membela Nazaruddin, lalu berubah mengutuknya. Jelas juga Demokrat memainkan peran untuk mengamankan Nazaruddin. Buktinya, yang mengijinkan Nazaruddin berobat kan fraksi Demokrat. Sampai sekarang tak jelas Nazaruddin sakitnya apa. Mereka (Tim Investigasi Demokrat) mengaku pernah mengunjungi dan bertemu Nazaruddin di Singapura, tapi sampai sekarang mereka tak pernah menunjukkan bukti sakitnya.
"Demokrat bilang tangkap Nazaruddin, tangkap Nazaruddin, tapi pernahkah mereka memberitahukan dimana Nazaruddin tinggal. Kan tidak. Semua sandiwara saja," imbuhnya.
"Mereka semua (Presiden, Demokrat dan KPK) bersandiwara,"
[dem]
BERITA TERKAIT: