Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo menjelaskan eksistensi para mafia di negara ini langsung terlihat oleh publik setiap kali kasus-kasus hukum berskala besar terungkap.
"Dari kasus BLBI, Century, kasus Arthalita Suryani, kasus Mafia pajak Gayus Tambunan hingga kasus Hakim Syarifuddin, selalu merefleksikan peran dan kekuatan para mafia. Bahkan kini, mafia di lembaga Pemilu (KPU) pun sudah mulai terkuak dengan munculnya kasus Andi Nurpati," katanya, (Minggu, 19/6).
Rakyat melihat kemauan dan keberanian politik para pemimpin negeri ini dalam memerangi mafia baru dalam tertuang kata-kata atau pidato, bukan dalam tindakan nyata. Buktinya, proses hukum skandal Bank Century dan mafia pajak nyaris tanpa progres.
Bamsoet, demikian ia akrab disapa melanjutkan, kalau kemudian dimunculkan persepsi bahwa Indonesia berpotensi sebagai negara gagal, itu karena rakyat melihat para pemimpin politik dan birokrasi negara sudah tidak memiliki lagi keberanian politik untuk lepas dari cengkeraman para mafia.
"Mereka berselingkuh dan terperangkap dalam perselingkuhan itu," tegas Wakil Bendahara Umum DPP Partai Golkar ini.
Jika perselingkhuan birokrasi negara dengan para mafia tak bisa diakhiri, sendi-sendi negara akan terus melemah. Sebab, kepedulian birokrasi negara tak lagi kepada negara dan rakyat, melainkan hanya untuk partner selingkuhan mereka, yakni para mafia. Jadi, tidak ada yang salah dengan kekhawatiran akan masa depan Indonesia sebagai negara gagal atau bangkrut.
"Di ruang publik saat ini, sudah muncul kesimpulan bersama bahwa pemerintah dan para pemimpin politik tidak berani memerangi mafia, karena banyak kekuatan politik sudah menikmati keuntungan dari para mafia," tandas alumni Lembaga Ketahanan Nasional ini.
[zul]
BERITA TERKAIT: