Burhanuddin Muhtadi dari Lembaga Survei Indonesia dan Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika misalnya. Mereka semacam mempertanyakan hasil survei yang menunjukkan suara Partai Demokrat turun lima persen karena dugaan kasus suap dan korupsi yang melilit M Nazaruddin dan suara itu sebagian besar bermigrasi ke Partai Golkar.
Memang, baik Burhanuddin maupun Yunarto sepakat bahwa suara Demokrat memang terjadi tren penurunan. Tapi menurut Toto, panggilan Yunarto, kalau bermigrasi mestinya ke PKS, bukan ke Golkar. Sebab kedua partai itu basis massanya di perkotaan dan Golkar terutama Aburizal Bakrie belum bisa melepaskan imej buruk dari kasus pajak dan lumpur Lapindo.
Sedangkan Burhan menilai, berdasarkan temuannya, ada kecenderungan elektabilitas PDIP akan meningkat, ketika terjadi sentimen negatif terhadap Partai Demokrat dan SBY. Karena PDIP konsisten sebagai oposisi utama.
"Tak pernah kita menemukan sentimen negatif ke Partai Demokrat dan SBY, pemilih lari ke Golkar. Agak kurang make sense kalau ke Golkar karena citra buruk Golkar soal pemberantasan korupsi dan kasus Lapindo," kata Mr. Han, demikian biasa dipanggil Burhanuddin, kemarin.
Bagaimana pendapat Golkar atas serangan dari beberapa pengamat dan peneliti atas hasil survei LSI Denny JA yang "menguntungkan" partai beringin itu? Kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini, Wakil Bendahara Umum Golkar Bambang Soesatyo memahami para pengamat dan peneliti berpendapat seperti itu.
"Mereka kan pengamat. (Tapi) untuk menguji kesahihan penilaian mereka, kenapa mereka tidak bikin survei sendiri, lalu umumkan kepada publik. Soal mau percaya atau tidak percaya, ya itulah hasil survei yang dibuat LSI. Kalau ragu, sebaiknya tidak cuma asal bicara dan menganalisa seolah paling tahu, paling pintar dan paling mengerti politik. Jawablah dengan hasil survei juga. Itu baru argumentatif. Gitu aja kok repot," katanya sambil tertawa.
Selian itu, anggota Komisi III DPR ini memastikan, Golkar santai mendengar ocehan pengamat yang ragu atas hasil survei LSI Denny JA. Reaksi Golkar atas pengamat itu sama santainya saat Golkar mendengar pendapat masyarakat yang menilai, ada satu dua pengamat yang selalu asal bunyi tanpa didasari data yang melengkapi ucapannya kecuali hanya retorika.
[zul]
BERITA TERKAIT: