Tak hanya itu, beragam masalah yang menciderai demokrasi pun ditemukan. Apalagi jika masalah besarnya, kalau bukan kasus korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini tidak sama sekali hilang setelah gerakan demokrasi mampu menjatuhkan rezim diktator Soeharto.
"Kesalahan sejarah 98, kita mudah memaafkan dosa besar para pemimpin dan partai yang hidup di zaman orde baru, bahkan melibatkan mereka pada pemilu 1999. Negara kita seharusnya lebih maju, ketimbang negara lain," kata mantan aktivis '98 Wanto Sugito pagi ini (Selasa, 7/6).
"Toh kita tidak maju di segala bidang, kecuali makin tumbuh pesatnya KKN yang memiskinkan sebuah bangsa. Mencuatnya isu konspirasi sejumlah partai politik dalam mengecak dana APBN untuk saling berbagi dinilai banyak pihak bukan isapan jempol belaka. Jika itu benar, maka usia bangsa ini tak lebih dari berdirinya kerajaan Majapahit," sambung Ketua DPN Relawan Perjuangan Demokrasi ini.
Sekjen Ikatan Alumni Mahasiswa UIN Jakarta ini pun menggugah publik. Dia mempertanyakan, apakah kita hanya bisa diam melihat sebuah bangsa yang sedang sakit, bahkan menuju kronis; diamkah kita melihat isu korupsi besar yang tak pernah tertuntaskan, seperti kasus korupsi mantan Presiden Soeharto dan kroni, BLBI, Bank Century, Gayus, dan yang sekarang sedang ramai yakni kasus suap Kemenpora yang diduuga melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat selaku partai bekuasa, Muhammad Nazaruddin.
"Tentu belum ada yang mampu menjawab. Karena jawabannya pun pasti berat, dan sangat berat karena individualistik rakyat sudah kental dan kuat. Yang pasti, jalan keluar krisis bangsa hanya soal keberanian pemimpin saat ini. Sementara sebelum menemukan pemimpin yang berani, yang bisa kita lakukan, adalah mengontrol diri sendiri sambil menikmati suguhan sandiwara isu para bandit penguasa," tandas pria yang akrab disapa Klutuck ini miris.
[zul]
BERITA TERKAIT: