Pasalnya, persoalan internal Demokrat telah menyedot perhatian publik. Tidak tanggung-tanggung, publik seakan-akan digiring untuk terlibat aktif membela dan menyelesaikan persoalan tersebut. Modus yang digunakan adalah memposisikan Partai Demokrat dan para petingginya sebagai pihak yang dizalimi.
​"Padahal, fakta yang ada jelas-jelas telah menunjukkan bahwa Partai Demokrat bukanlah partai yang bersih-bersih amat. Dugaan suap, dugaan pemalsuan dokumen, dugaan gratifikasi, dan penghembusan isu Mr. A yang tak berdasar adalah bukti nyata yang bisa dikemukakan," ujar pengamat politik dari FISIP Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, Saleh P. Daulay, kepada
Rakyat Merdeka Online Sabtu siang (4/6).
"Mungkin banyak orang tidak sadar terhadap gejala ini," tambahnya.
Saleh menambahkan, propaganda seperti ini seharusnya tidak perlu dimainkan. Selain tidak efektif, propaganda ini juga dapat mengecilkan posisi SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Orang yang cerdas mengamati persoalan ini akan menilai SBY gagal membina kader-kader partainya. Malah cenderung berkelit dengan cara menyalahkan orang-orang yang berasal dari luar partai.
"Kalau ini dilanjutkan, bukan SBY dan Partai Demokrat yang terzalimi. Malah sebaliknya, rakyat yang jadi korban dan terlupakan. Energi pemerintah dan partai pemenang Pemilu ini habis tersedot untuk memperbaiki citra partai yang belakangan ini semakin buruk. Akibatnya, janji-janji yang diucapkan pada Pemilu lalu, hanyut tenggelam bak ditelan bumi," demikian Saleh.
[zul]
BERITA TERKAIT: