Tenaga Migran Asal Indonesia Terbesar di Taiwan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Kamis, 28 April 2011, 16:52 WIB
Tenaga Migran Asal Indonesia Terbesar di Taiwan
Moh Jumhur Hidayat/ist
RMOL. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat, mengatakan tenaga kerja asing asal Indonesia merupakan yang terbesar di Taiwan dengan jumlah 161 ribu orang . Sebagian  besar dari mereka bekerja pada sektor informal atau rumah tangga. Sedangkan jumlah keseluruhan tenaga kerja asing di Taiwan sekitar 380 ribu.

Demikian disampaikan Jumhur dari Taipei, Kamis (28/4) mengutip keterangan Ketua kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan, Harmen Sembiring.

Jumhur dan rombongan BNP2TKI berada di Taiwan sejak Rabu (27/4) guna menghadiri Pertemuan Tahunan V Indonesian Economic and Trade Office to Taipei (IETO/KDEI) dengan Taiwan Economic Trade Office (TETO) pada Jumat besok (29/4) di Taipei, terkait peningkatan kerjasama penempatan dan perlindungan TKI di Taiwan. Dalam kunjungannya Jumhur juga dengan bertemu pihak agensi penyalur TKI dan perwakilan Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS).   

Menurut Jumhur, TKI di Taiwan menguasai sektor rumah tangga dan pada umumnya menjadi caregiver (perawat lanjut usia). Hal itu mengingat tingkat harapan hidup warga Taiwan cukup tinggi yakni 90 persen dari total penduduk Taiwan sebanyak 27 juta orang.

"Sebagian kecil lainnya bekerja di bidang formal menjadi ABK (Anak Buah Kapal) atau fisherman (nelayan) untuk kapal penangkap ikan milik pengguna perorangan serta di jenis pekerjaan konstruksi dan manufaktur," jelas Jumhur.

Sementara itu, Harmen Sembiring menyebutkan keberadaan TKI mencapai 40 persen lebih dari seluruh pekerja asing yang ada di Taiwan. Setelah itu pekerja asal Veitnam dengan jumlah 110-120 ribu, Filipina 77-80 ribu, Thailand antara 50-60 ribu, dan sisanya dari negara lain yang tidak signifikan jumlahnya. Ditambahkan Harmen, keberadaan TKI di Taiwan terkonsentrasi di kota Taipei dan sekitarnya.

"Yang mendominasi sektor rumah tangga hanya Indonesia. Untuk Vietnam, Filipina, dan Thailand tenaga kerjanya menguasai sektor formal pada bidang manufaktur dan konstruksi," ujar Harmen.

Harmen menjelaskan, TKI sektor rumah tangga tidak disebut sebagai TKI informal oleh pemerintah Taiwan, karena pihak berwenang Taiwan hanya membedakan tenaga kerja asing dalam kategori berdokumen dan tidak berdokumen.

Mengenai gaji TKI yang bekerja di rumah tangga, lanjutnya, rata-rata sebesar Rp 4,5 juta per bulan belum termasuk upah lembur. Untuk TKI yang menjadi ABK/Fisherman, gajinya Rp 5 juta per bulan dan bagi TKI manufaktur mendapatkan Rp 5,5-6 juta per bulan berikut pemondokan.

"Seluruh tenaga kerja asing di Taiwan juga mendapatkan jaminan asuransi sesuai pekerjaannya," kata Harmen. [wid]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA