Mereka yang ditahan adalah Pepi Fernando, Hendi Suhartono, Febri Hermawan, Mugianto, Ade Guntur, Darto, Irman Kamaludin, Muhammad Maulana Sani, Fajar Dwi Setio, Watono, Juni Kurniawan, Riki Riyanto, Mochamad Syarif, Muhamad Fadil, Deni Carmelita, Imam Muhammad Firdaus dan Matun Maulana.
Sementara yang tidak ditahan adalah Doni Ramdani, Yuyun Supriatna, Osum Sumarna, Ahmad Hidayat dan Opi Yuhendra.
Pemimpin kelompok ini, Pepi Fernando, ditangkap di Merduati, Kutaraja, Banda Aceh di rumah Muhammad Fadil pada 21 April. Pendidikan terakhir S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain sebagai pimpinan kelompok, Pepi juga menentukan satu judul buku yang dikirim sebagai bom buku Ulil Abhsar Abdalaa.
Muhammad Maulana Sani alias Maulana. Pendidikan terakhir S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beralamat di Rawamangun Muka Selatan II. Keterlibatannya, turut serta membuat bom bersama Pepi dan kelompoknya. Pasal yang dikenakan pasal 6, 7, 9, 11, 13 huruf a,b dan c dan atau pasal 15 Peraturan Pemerintah Pengganti UU nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan tindak pidana terorisme yang telah dietapkan jadi UU 15 tahun 2003 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU no 1/2002.
Muhammad Fadil, lulusan S1 Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai penjahit. Keterlibatannya, membantu dana bom dan menyembunyikan Pepi Zakau.
Hendi Suhartono, turut serta membuat bom, eksekutor dan meletakkan bom di Puspitek, Serpong.
Irman Kamaludin, lulusan SMUN 24. Bekerja di bidang design grafis. Dalam kelompok Pepi dia bekerja sebagai bendahara, turut serta membuat bom, membuat lima cover dan empat judul bom buku
Darto, ditangkap di Rawadas, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sehari-hari bekerja menjual mainan. Dia terlibat dalam membeli bahan peledak, turut serta membuat bom, meletakkan bom tabung.
Watono, ditangkap di Rawadas, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Lulusan SD. Sehari-hari menjual burger dan turut serta membuat bom.
Fajar Dwi Setyo, ditangkap di Pondok Kopi. Ikut membeli bahan peledak dan meletakkan bom Puspitek, Tangerang.
Ade Guntur, ditangkap di Pondok Kopi. Sehari-hari bekerja di percetakan sablon. Terlibat dalam pembelian bahan peledak, survei lokasi di Puspitek Tangerang dan membawa bahan peledak.
Riki Riyanto, ditangkap di Pondok Kopi. Lulusan SMP (Paket B). Sehari-hari bekerja di percetakan sablon. Terlibat dalam pembelian bahan peledak dan membuat bom bersama Pepi. Dia juga yang membawa bom ke Christ Chatedral, Gading Serpong.
Mohammad Syarif, ditangkap di Pesanggrahan, Ciputat Timur. Lulusan SMK. Bekerja sebagai supir pribadi di komplek MPR. DIa terlibat dalam pembuatan bom, ikut uji coba peledakan bom di rumah Pepi pada Februari 2011.
Mugianto, ditangkap di Pasar Perumnas Klender. Bekerja sebagai karyawan toko. Terlibat dalam membeli bahan peledak dan membuat bom.
Juni Kurniawan, ditangkap di Jalan Mawar Kavling Tangerang. Lulusan SMA. Terlibat dalam membantu memberi dana.
Febri Hermawan, ditangkap di Jalan Margahayu, Bekasi. Dia terlibat dalam membuat bom.
Deni Carmelita, ditangkap di Harapan Indah, Bekasi. Lulusan S1 IISIP. Bekerja sebagai Staf Humas Badan Narkotika Nasional. Dia terlibat dalam menyembunyikan info peledakan bom.
Imam Firdaus, ditangkap ditangkap di Jalan Manunggal, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Lulusan S1. Bekerja sebagai kamerawan. Terlibat dalam menyembunyikan ledakan bom dan membantu untuk menyiarkan aksi teroris di media massa.
Matun, ditangkap Gunung Sindur, Parung, Bogor. Terlibat dalam menyembunyikan info peledakan bom.
[ald]