"Nggak ada hubunganya. Apa hubungannya?" tegas Jurubicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul kepada
Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 23/4).
Karena itu, dia mempersilakan Komisi Yudisial untuk memeriksa hakim yang menangani kasus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi bila memang terbukti ada pelanggaran kode etik. Tapi dia mengingatkan, agar KY jangan mempublikasikan sebelum ada temuan final.
"Tapi tolong sebelum ada hasilnya jangan mengandai-andai. Karena itu sangat bahaya," katanya.
Tak hanya itu, anggota Komisi III DPR ini juga mempersilakan Antasari untuk mengajukan novum bila memang memilikinya. Menurutnya, hal itu penting untuk segera diajukan agar polemik ini segera berakhir dan tidak ditumpangi oleh pihak-pihak yang memiliki tujuan tertentu.
Termasuk kepada anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo. Ruhut meminta kawan sesama anggota komisi hukum itu untuk langsung tunjuk hidung siapa orang kuat yang membekingi kasus Antasari tersebut.
"Bambang Soesatyo itu bukan orang hukum. Kalau ada orang kuat yang ia tahu, pasti dia buka. Tapi dia tidak tahu, hanya lempar bola saja. Kalau ada orang kuat, tunjuk hidung aja. Kan Bambang orang pemberani. Buka saja," tegasnya.
Dalam wawancara dengan
Rakyat Merdeka yang dimuat hari ini, Bamsoet mensinyalir ada orang kuat yang membekingi kasus Antasari Azhar tersebut.
Benarkah rakyat sekarang sudah mulai berbalik arah daÂlam memandang kasus AntaÂsari?
Perlahan tapi pasti. Persepsi publik terhadap peran Antasari dalam pembunuhan almarhum Nasruddin kini mulai berbalik. Antasari mulai dilihat sebagai korban rekayasa kasus hukum. Sebagian publik kita pun mulai yakin bahwa hanya kekuatan besar di negara ini yang mampu memerangkap Antasari. PertaÂnyaan usil berikutnya adalah mengapa Ketua KPK itu sampai tidak bisa menghindar dari jebaÂkan itu? Jawabannya, ada orang kuat bekingi rekayasa ini. Sebab, orang itu sangat marah pada Antasari. ‘Dosa’ Antasari, kataÂnya, sulit dimaafkan.
[zul]
BERITA TERKAIT: